Leci Kom adalah leci dataran rendah yang berasal dari Cina Selatan yang adaktif di dataran rendah dan panas yang menurut cerita dibawa oleh seorang saudagar asal Cina yang merapatkan kapalnya di Samut Songkhram Thailand. Famili Sapindaceae ini dulunya adalah buah kesukaan Yang Kuei Fei - seorang selir dari Kaisar Hsuan Tsung pada zaman dinasti Ming di Cina.
Hampir semua kebanyakan penduduk di Samut Songkhram bertanam leci kom. Varietas leci unggul ini bersosok pendek dan bertajuk kompak, cocok dengan namanya yang berarti kerdil. Terbukti tanaman disana yang berumur 20 tahun pun rata-rata hanya setinggi 4-5 meter saja. tanaman leci kom baru belajar berbuah pada umur kira-kira 3-4 tahun dengan bibit hasil cangkokan. Di Payangan Bali, dengan umur 10 tahun baru berproduksi hanya beberapa dompol saja meski pada umur 5 tahun sudah mencapai panenan sekitar 25 kg.
Leci Kom di Samut Songkhram Thailand Utara tumbuh di kebun-kebun yang hanya berjarak puluhan kilometer dari laut atau tepi pantai dan kurang lebih hanya 50 meter dpl dengan panas mencapai 40 derajat Celsius. Lantaran sudah beradaptasi dengan iklim tropis, leci kom berbeda dengan varietas leci dataran tinggi. Bila leci dataran tinggi membutuhkan udara dingin 10-12 derajat di malam hari selama sekitar 50-100 jam supaya berbunga yang menjadi cikal dari buah, leci kom hanya memerlukan 30-50 jam dengan suhu 15-20 derajat, kata seorang pakar tanaman di Thailand.
Semoga dengan catatan pendek ini, leci kom bisa menjadi pilihan anda untuk ditanam di halaman rumah anda atau di kebun karena leci yang biasa hanya bisa berbuah di dataran tinggi saja. Kini leci kom menjadi pilihan untuk ditanam di dataran rendah dan panas....
Wednesday, July 28, 2010
Budidaya Leci Kom
Tuesday, May 25, 2010
BUDIDAYA KACANG PANJANG
Nama Latin: Vigna unguilata
Nama Inggris: Yard Long Beans
Famili : LEGUMINOCEAE
1. Cultivar
Super sainan, Sentosa, 777, Green arow, B&W seed
2. Pembenihan
Biji yang diperoleh dijemur sampai kering selama 3
hari dengan sinar matahari.
3. Pengolahan Tanah
Penggemburan
Tanah yang akan ditanami sebelumnya dibersihkan
dulu dari gulma. Penggemburan yanah dilakukan
dengan cara membalik dan menghancurkan
bongkahan tanah menjadi butir-butir yang lebih
kecil.
Tanah dicangkul dengan kedalaman 20-30 cm.
Tanah tersebut dibiarkan 3-4 hari.
Pembuatan bedengan
Tanah tersebut dibuat bedengan yang lebarnya 80-
100 cm. Diantara bedengan dibuat saluran
drainase dengan lebar 30 cm. panjang bedengan
disesuaikan dengan lahan.
Pengapuran
Pengapuran hanya dilakukan jika tanah bereaksi
terlalu masam. Derajat kemasaman yang sesuai
untuk kacang panjang sekitar 5.5 - 6.5. Cara
pengapuran yaitu dengan menaburkan kapur
secara merata ke seluruh lahan. Tanah dibiarkan
selama 2-3 minggu hingga siap ditanami.
4. Penanaman
Waktu tanam
Penanaman kacang panjang sebaiknya dilakukan
pada awal dan akhir musim hujan.
Cara penanaman
Benih kacang panjang dapat langsung ditanam di
bedengan tanpa disemaikan terlebih dulu.
Penanaman dilakukan dengan membuat lubang
tanam. Kedalaman lubang tanam sekitar 4-5 cm.
jarak antar lubang tanam sekitar 25-30 cm, dan
antar barisan 60-75 cm.
Pada tiap lubang tanam dimasukkan 2 butir benih,
lalu ditutup dengan tanah tipis-tipis.
5. Pemeliharaan
Penyulaman
Kegiatan penyulaman dilakukan seminggu setelah
penanaman.
Penyiraman
Penyiraman dilakukan pagi dan sore pada saat
musim kemarau.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan 3 dan 6 MST. Bersamaan
dengan penyiangan ini dilakukan pendangiran,
dengan tujuan agar tanah menjadi gembur
kembali.
Pemupukan
Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan
disajikan pada Tabel 10. Pupuk urea tidak diberikan
sekaligus, tetapi dilakukan 2 tahap. Setengan dosis
pada saat tanam dan sisanya diberikan pada saat
tanaman berumur 3 MST. Pupuk TSP dan KCl
diberikan seluruhnya pada saat penanaman.
Pemberian pupuk diberikan pada tanaman dengan
cara membuat lubang, kira-kira 5-7 cm di sisi barisan
benih.
Pemasangan turus
Untuk menghasilkan produksi yang tinggi perlu
diberikan turus untuk merambatkan tanaman.
Sebagai turus dapat digunakan batang kayu atau
belahan bambu yang panjangnya 150-200 cm dan
lebarnya 2-3 cm. pemasangan turus dilakukan
pada setiap tanaman setelah berumur 2 minggu
atau mencapai tinggi kira-kira 25 cm.
Pemangkasan
Pemangkasan pucuk cabanng dilakukan satu kali
sebelum tanaman berbunga, yakni pada umur
sekitar 3-4 MST. Caranya adalah dengan
memotong pucuk sekitar 2-3 ruas.
By: www.vitroculture.blogspot.com
Wednesday, May 12, 2010
BUDIDAYA BABY CORN (baby)
Nama Latin: Zea Mays
Nama Inggris: Baby Corn
Famili : POACEAE
1. Cultivar
Bright jean, SD2, Honey Jean, Honey Pearl
2. Pengolahan Lahan
Tanah diolah dengan dibajak/dicangkul. Gulma
dan rumput liar dicabut dan dibuang.
Beri pupuk kandang sebanyk 2 ton/ha ditabur
diatas tanah lalu dicangkul hinggatercampur
merata dengan tanah. Beri tambahan kapur (jika
perlu) hingga pH 6-7.
Setelah tanah diolah buat guludan berukuran 2.6 x
25 m
Buat parit dengan tinggi 20 cm dan lebar 40 cm
3. Penanaman
Buat lubang tanam dengan ukuran 65 x 15 cm
Satu lubang tanam cukup diisi satu benih disertai
pemberian furadan 1-2 gr pada setiap lubang.
Lakukan pemupukan dengan pupuk dasar yaitu
urea, SP36 KCl. Pemberian pupuk dilakukan dengan
cara ditugal dengan jarak 5 cm dari setiap lubang.
4. Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman dilakuakn sesaat setlah ppenanaman
benih untuk membantu perkecmbahan benih.
Selanjutnya dilakukan satu kali perhari selam minggu
pertama. Penyiraman selanjutnya dilakukan
kembali setelah memasuki minggu ke-4 (saat
pembentukan tonggol). Perlu diperhatikan,
penyiraman dilakukan secukupnya agar tidak
membuat tanaman mati membusuk.
Penyiangan
penyiangan dilakukan sesering mungkin dengan
membersihkan atau mencabuti tanaman liar
(gulma).
Pembumbunan
Dilakukan bersamaan dengan penyiangan
pertama dan pada minggu kelima.
Pemberian pupuk lanjutan
Pemupukan yang kedua dan ketigan diberikan
pada umur 3, dan 6 MST. Pupuk ditaburkan pada
larikan berjarak 3 cm untuk tanamn Perkiraan dosis
dan waktu aplikasi
Pembuangaan bunga jantan
Detasseling dilakukan 40 hari setelah tanam (pada
daerah dataran rendah) dan sekitar 55 hari untuk
daerah dataran tinggi. Caranya dengan
mencabut tangkai bunga jantannya.
5. Panen dan Pasca panen
Panen pertama dapat dilakukan pada hari kedua
setelah tongkol muncul. Panen berikutnya
dilakukan setiap hari sekali. Segera disortir sesuai
dengan grade yang sesuai pesanan pasar.
Monday, May 3, 2010
BUDIDAYA TANAMAN CAISIN
Nama Latin: Brasica rapa cv. caisin
Nama Inggris: Caisin
Famili : BRASSICACEAE
1. Cultivar
A Tosakan, Regency
2. Persemaian
Rumah Bibit (Tergantung dari kondisi cuaca, jika curah
hujan tinggi dan suhu tinggi maka perlu naungan)
Rumah bibit dibuat dari bambu, dengan atap
plastic polietilen, lebar 1,5 meter. Tinggi bagian
depan 1,3 meter dan bagian belakang 1 meter dan
panjang sesuai dengan keperluan. Panjang
bedengan 1-3 meter tergantung kebutuhan bibit
yang akan ditanam. Bedengan pembibitan dibuat
pada lahan berukuran 80-120 cm.
Alat Persemaian
Sama seperti komoditas lain
Penyemaian Benih
Dua minggu sebelum tabur benih, bedengan
pembibitan ditaburi dengan 2 kg pupuk kandang
yang telah ditambahkan dengan 20 gr urea, 10 gr
TSP, 7,5 gr KCl.
Benih ditabur pada permukaan bedengan
pembibitan, selanjutnya benih ditutupi dengan
tanah halus setebal 1-2 cm.
Lakukan perawatan dengan penyiraman
menggunakan sprayer.
Benih yang baik akan tumbuh setelah 3-5 hari.
Transplanting
Isi panel semai dengan media semai sampai penuh
dan basahi dengan air.
Benih yang sudah berdaun 2-3 helai (2-3 minggu
setelah biji disemaikan) tanaman dapat
dipindahkan ke panel semai dengan satu benih
untuk setiap lubang tanam.
Simpan panel semai di dalam rumah bibit sampai
siap tanam (3-4 minggu)
3. Pengolahan lahan
Tanah dicangkul dan dibuat bedeng berukuran 120
cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak
tanah, tinggi bedeng 20-30 cm, jarak antar bedeng
30 cm.
Diatas bedengan taburi dengan pupuk kandang 10
ton/ha dan kapur (bila tanah terlalu masam 0,75-
1,23 ton/ha pada pH 5,9-6) kemudian diaduk
dengan tanah sampai rata.
Taburi pupuk dasar dan campurkan dengan
tanah.
Rapikan kembali bedengan.
4. Penanaman
Jarak tanam yang dipakai adalah double row (2
baris tanaman) per bedeng dengan jarak tanam
40×40 cm atau 20×20 cm (caisin putih dan caisin
hijau- 1 bedeng caisin putih 3 baris dan 1 bedeng
caisin hijau 5 baris).
Penanaman dilakukan pada bibit yang berumur 3-4
minggu, atau sudah mempunyai 3-5 helai
daun
Satu lubang tanam diisi satu bibit .
Penggalian lubang tanam dilakukan dengan
tangan atau ajir pada ukuran 4-8 × 6-10 m.
Memindahan secara hati-hati jangan sampai
akar/daunnya rusak.
5. Pemeliharaan
Penyiraman(disesuaikan dengan kebutuhan tanah)
sejak disemai sampai tumbuh dewasa air selalu
dibutuhkan
Penyulaman tanaman sulaman biasanya diambil
dari bibit tananam yang masih tersisa di bedeng
pembibitan
Penyiangan, penggemburan dan pengguludan.
Penyiangan dilakukan secara manual 2 minggu
sekali/ sesuai pertumbuhan gulma biasanya
penyiangan, penggemburan dan pengguludan
dilakukan sekaligus untuk menghemat tenaga kerja.
Pemberian pupuk tambahan diberikan pada saat 3
minggu setelah tanam dengan cara penaburan
dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali.
Perkiraan dosis dan waktu
more: www.vitroculture.blogspot.com/
BUDIDAYA CABE
Nama Latin: Capsicum annuum
Nama Inggris: Chili
Famili : SOLANACEAE
1. Cultivar :
a Tit Super, Jati laba(Merah besar), Cakra , Pelita (Cabe Rawit), Laris, TM 99 (ketiting Hibrida), dan Prabu, Sultan, Maraton, Gada, Hot Chili, Hot Beauty (merah besar Hibrida)
2. Persemaian
Rumah bibit terbuat dari bambu, dengan atap plastik. Lebar 1.2 m, tinggi bagian depan 1.5 m dan bagian belakang 1 m, dan panjang sesuai dengan keperluan.
Di dalam rumah bibit dibuat bangku dari bamboo yang digunakan untuk meletakkan panel bibit
Alat Persemaian
Tray Semai : tray semai terbuat dari bahan plastik
/mika, yang bisa ditutup agar tetap lembab.
Kertas Tissue : kertas tissue yang mudah menyerap
air
Sprayer (Hand Sprayer): volume 1 liter.
Pinset : digunakan untuk transplanting y
Panel bibit: isi 50/98/128 tanaman per panel
Media semai : Campuran pupuk kandang steril dan
arang sekam (1:1)
Penyemaian Benih
Letakkan 3-5 lapis kertas tissu ke dalam tray semai,
kemudian basahi dengan air secukupnya
Benih sebanyak 75-100 ditebar diatas kertas tissue
yang telah dibasahai. Kemudian tray semai di tutup
(klip/setpler) biarkan selama 3-4 hari di tempat yang
tidak terkena cahaya langsung.
Pertahankan agar kertas tissue selalu dalam
keadaan lembab
Transplanting
Isi Panel semai dengan media semai sampai penuh,
dan basahi dengan air
Benih yang sudah berkecambah transplanting
/pindahkan dari tray semai ke panel semai dengan
1 benih untuk setiap lubang tanam
Simpan panel semai di dalam rumah bibit sampai
siap tanam (4-5 minggu)
3. Persiapan Lahan
Tanah dicangkul dan dibuat bedeng berukuran 1,2
m x 30 m. Tinggi bedeng 30 cm. Jarak antar
bedeng 60 cm, digunakan sebagai tempat
pemeliharaan
Di atas bedengan taburi dengan pupuk kandang
20 ton/ha dan kapur(bila tanah terlalu masam)
1000-1200 ton sampai pH 6-6.5, kemudian diaduk
dengan tanah sampai rata
Taburi pupuk dasar Urea, SP36, dan KCL sesuai
dengan dosis
Rapihkan kembali bedengan dan tutup dengan
mulsa plastik Hitam Perak dan kunci mulsa plastik
agar tidak sobek terbawa angin
4. Penanaman
Lubangi plastik dengan diameter 10 cm pada jarak tanam.
Jarak tanam yang dipakai adalah double row (dua
baris tanaman) per bedengan dengan jarak 60
antar bedengan dan 50 cm atan tanaman dalam
baisan.
Sebelum penanaman dilakukan penyiraman
bedengan (di leb) sedalam 25-30 cm
Penanaman dilakukan pada bibit yang sudah
berumur 4-5 minggu, atau sudah mempunyai 3-5
helai daun
Satu lubang tanam diisi satu bibit.
Pemindahan secara hati-hati jangan sampai akar
atau daunnya rusak.
5. Pemeliharaan
Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang tidak
sehat pertumbuhannya dengan bibit baru yang
kira-kira umurnya sama. Penyulaman dilakukan
pada satu minggu setelah tanam.
Pengajiran
Dilakukan 7 hari setelah tanam
Ajir terbuat dari bambu 2 x 100 cm, ditancapkan 10
cm dari pohon, ditanmankan dalam tanah sedalam
20-30 cm dengan posisi miring keluar
Pengikatan tanaman pada ajir dilakukan pada
umur 15 hari setelah tanam dengan rafia
Pewiwilan
Semua tunas air dibawah cabang pertama diwiwl
Bunga I dan II setelah cabang pertama diwiwil,
bunga dan cabang selanjutnya dipelihara
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian HPT dilakukan bila perlu saja, yaitu
bila terlihat gejala adanya serangga atau penyakit.
Untuk tindakan preventif disemprotkan pestisida
setiap minggu setelah tanam dengan insektisida
atau fungisida secara bergantian, dengan dosis
sesuai anjuran.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan secara manual dua minggu
sekali atau sesuai pertumbuhan gulma.
Pemupukan tambahan
Pemberian pupuk tambahan dilakukan pada 2,4,6,8
minggu setelah tanam. Cara pemberian dengan
melingkarkan sekeliling tanaman 5-7 cm dari
tanaman. Perkiraan dosis dan waktu aplikasi
pemupukan disajikan pada Tabel 7. www.vitroculture.blogspot.com
Penyiraman
Pengairan dilakukan dengan sistem furrow, yaitu
dengan mengairi parit selama 2-8 jam dengan
ketinggian air 25 cm saat tanaman berumur 10 hari
setelah tanam, atau disesuaikan kelembaban
tanahnya.
6. Panen dan Pasca Panen
Panen pertama dapat dilakukan mulai 9 minggu
setelah tanam. Panen berikutnya setiap 5-7 hari
sekali.
Buah yang sudah dipanen segera disortir
(dipisahkan) berdasarkan grade yang dengan
sesuai pesanan pasar.
Tuesday, April 27, 2010
BUDI DAYA BUNCIS
Nama Latin: Phaseolus vulgaris.
Nama Inggris: French Beans
Famili : LEGUMINOCEAE
1. Cultivar
Lebat 1, Gypsy, Early Bush, Green Coat, Purple Coat
2. Penyiapan Benih
Benih yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : mempunyai daya tumbuh minimal 80-85 %, bentuknya utuh, bernas, warna mengkilat, tidak bernoda coklat terutama pada mata bijinya, bebas dari hama dan penyakit, seragam dan tidak tercampur varietas lain serta bersih dari kotoran.
Apabila jumlah benih yang ada melebihi jumlah benih yang dibutuhkan, maka dibutuhkan suatu penyimpanan dengan memberi suhu 18-20ºC, RH 50-60%, kandungan air benih 14%.
3. Persiapan Lahan
Pembukaan Lahan
Lahan dapat dibersihkan secara manual yaitu
dengan cara mencabut gulma dengan tangan,
cangkul ataupun traktor. Dan secara kimia yaitu
dengan menggunakan herbisida. Setelah bersih,
tanah dicangkul 1-2 kali sedalam 20-30 cm.
Pembuatan Bedengan
Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 5 meter,
lebar 1 meter dan tinggi 30 cm,jarak antar
bedengan 40-50 cm. Untuk tanah pekarangan
dibuat guludan dengan panjang 5 meter, lebar 20
cm, tinggi 10-15 cm dan jarak antar guludan 70 cm.
Pengapuran
Tanah di Indonesia umumnya bersifat masam,
sebelum penanaman diperlukan pengapuran
dilakukan 2-3 minggu sebelum penanaman.
4. Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Jarak penanaman adalah 20x50 cm atau 20x40 cm.
Penentuan jarak tanam harus diperhatikan karena
berhubungan dengan ketersediaan air, unsur hara,
dan cahaya matahari.
Pembuatan Lubang Tanam
Membuat lubang tanam dengan cara ditugal.
Kedalaman tugal 4-6 cm untuk tanah remah dan
gembur. Untuk tanah liat ukuran 2-4 cm.
Cara Penanaman
Tiap lubang tanam diisi 2-3 butir benih.
4. Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman
Penyulaman dilakukan dibawah 10 HST
Pengguludan
Peninggian guludan dilakukan setelah 20-40 hari
setelah tanam.
Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan sebatas pembentukan
sulur setelah tanaman berumur 2 dan 5 minggu.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada umur 14-21 HST.
Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan
disajikan pada Tabel 6. www.vitroculture.blogspot.com
Pengairan
Biasanya pengairan dilakukan pada musim
kemarau yaitu pada umur 1-15 hari dilakukan 2 kali
sehati pagi dan sore. Bila penanaman dilakukan
pada musim hujan, yang perlu diperhatikan adalah
masalah pembuangan saja.
Pemeliharaan Lain
Ajir perlu diberikan agar pertumbuhan dapat lebih
baik. Panjang ajir 2 m dan lebar 4 cm dipasang
secara berhadapan dan diikat menjadi satu bagian
pada ujungnya. Pemberian ajir pada saat tanaman
berusia 20 hari.
5. Panen dan Pascapanen
Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berusia
60 hari dan polong memperlihatkan ciri-ciri : warna
polong agak muda dan suram, permukaan kulitnya
agak kasar, Biji dan polong belum menonjol dan
polong akan mengeluarkan bunyi letupan jika
dipatahkan.
Periode Panen
Pemanenan dilakukan secara bertahap yaitu setiap
2-3 hari sekali dan dihentikan pada saat tanaman
berumur 80 hari atau 7 kali panen.
Sortasi
Plong buncis yang cacat akibat serangan hama
dan penyakit, polong tua maupun yang patah
akibat panen yang kurang baik, semuanya harus
dipisahkan.
Penyimpanan
Cara penyimpanan yang biasa dilakukan adalah
dengan sistem refrigasi (pendinginan), dengan suhu
0-4,4 °C dan RH 85-90%. Ruangan penyimpanan
diusahakan agar udara segar dapat beredar dan
selalu berganti.
Friday, April 9, 2010
BUDI DAYA TANAMAN BROKOLI
DAYA BROKOLI
Nama Latin : Brassica olerecea cv. Brocolli
Nama Inggris: Brocolli
Famili : BRASSICACEAE
1. Cultivar
Royal Green, Delicate Green, Green King, Radiant
Green, Tender Green, Green Jewel
2. Penyiapan Benih
Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55o C selama 15-30 menit
Penyeleksian benih, dengan merendam biji dengan air, dimana benih yang baik akan tenggelam
Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah
3. Persemaian
Tempat persemaian
Penyemaian di bedengan : sebelum bedengan
dibuat, lahan diolah sedalam 30 cm lalu dibuat
bedengan selebar 110-120 cm memanjang dari
Utara ke Selatan. Bedengan dinaungi dengan
naungan plastik, jerami atau daun-daunan setinggi
1,25-1,50 m di sisi Timur dan 0,8-1,0 m di sisi Barat.
Penyemaian dilakukan dengan dua cara yaitu
disebar merata diatas bedengan atau disebar di
dalam barisan sedalam 0,2-1,0 cm.
Alat Persemaian
Kertas plastik atau daun pisang : ukuran diameter 4-
5 dan tinggi 5 cm
Sprayer (hand sprayer) : volume 1 liter
Media semai : campuran ayakan pupuk kandang
matang dan tanah halus dengan perbandingan 1:2
atau 1:1
Penyemaian Benih
Penyemaian dilakukan dengan dua cara yaitu
disebar merata diatas bedengan atau disebar di
dalam barisan sedalam 0,2-1,0 cm.
Transplanting
Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit dipindahkan ke
dalam bumbung. Lalu bibit dipindahkan ke
lapangan setelah memiliki 3-4 helai daun atau kirakira
berumur 1 bulan.
4. Persiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari tanamn liar dan sisa-sisa
akar, dicangkul sedalam 40-50 cm, lalu dibuat
bedengan selebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dengan
jarak bedengan 40 cm. Pada lahan miring perlu
dibuat parit di antara bedengan tetapi jika lahan
datar, parit ini tidak perlu dibuat.
Pengapuran hanya dilakukan jika pH tanah lebih
rendah dari 5,5 dengan dosis kapur yang sesui
dengan nilai pH tanah tetapi umumnya berkisar
antara 1-2 ton/ha dalam bentuk kalsit atau dolomit.
Kapur dicampurkan merata dengan tanah pada
saat pembuatan bedeng.
Pada saat pembuatan bedengan berlangsung,
campurkan 12,5-17,5 ton/ha pupuk kandang di
tambahkan dengan asumsi populasi tanaman/ha
antara 25.000-35.000.
Selain itu juga diberikan pupuk dasar berupa ZA, urea, SP-36 dan KCl Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan disajikan pada Tabel 5. www.vitroculture.blogspot.com
5. Penanaman
Jarak tanam yang dipakai adalah 50x50 cm untuk
kultivar bertajuk lebar dan 45x65 cm untuk kultivar
tegak.
Waktu tanam terbaik adalah di pagi hari antara jam
06.00-09.00 atau sore hari antara jam 15.00-17.00
Penanaman dilakukan pada bibit yang sudah
berumur sekitar satu bulan, atau sudah mempunyai
3-4 helai daun.
Satu lubang tanam diisi satu bibit.
Pemindahan secara hati-hati jangan sampai akar
atau daunnya rusak.
6. Pemeliharaan
Penyulaman
Jika ada tanaman yang rusak atau mati,
penyulaman dapat dilakukan sampai sebelum
tanaman berumur kira-kira dua minggu.
Perempalan
Perempalan tunas cabang dilakukan seawal
mungkin supaya ukuran dan kualitas massa bunga
yang terbentuk optimal.
Segera setelah terbentuk massa bunga, daun-daun
tua diikat sedemikian rupa sehingga massa bunga
ternaungi cahaya matahari. Penutupan ini berfungsi
untuk mempertahankan warna bunga supaya tetap
putih.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Untuk pengendalian dapat dilakukan dengan
melakukan bibit yang bebas penyakit, merendam
benih di air panas (50o C) atau di dalam
fungisida/bakterisida selama 15 menit, sanitasi
kebun, rotasi tanaman, menanam kutivar tahan
penyakit, menghindari tanaman dari kerusakan
mekanis atau gigitan serangga, melakukan sterilisasi
media semai atau lahan kebun, pengapuran pada
tanah masam dan mencabut tanaman yang
terserang penyakit.
Untuk mencegah serangan hama dan penyakit,
penyemprotan pestisida telah dilakukan walaupun
belum ada gejala serangan, penyemprotan
dilakukan setiap 2 minggu.
Penyiangan
Penyiangan yang dilakukan bersamaan dengan
penggemburan dilakukan bersama-sama dengan
pemupukan susulan yaitu 7-10 hari setelah hari
tanam (hst), 20 HST, dan 30-35 HST. Penyiangan dan
penggemburan harus dilaksanakan dengan hatihati
dan jangan terlalu dalam agar tidak merusak
akar kubis bunga yang dangkal.
Pada masa akhir pertumbuhan vegetatif (memasuki
masa pembungaan) penyiangan dihentikan.
Pemupukan tambahan
Pupuk susulan diberikan pada umur 1,3,5 MST di
sekeliling tanaman sejauh 10-15 cm dari batangnya
lalu ditimbun tanah. Dosis pupuk sesuai dengan
rekomendasi
Bersamaan dengan pupuk susulan III tanaman
dapat juga disemprot dengan pupuk daun yang
mengandung N dan K tinggi.
Penyiraman
Pengairan dilakukan secara rutin di pagi atau sore
hari. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan 1-
2 kali sehari terutama pada saat tanaman berada
pada fase pertumbuhan awal dan pembentukan
bunga.
Thursday, April 8, 2010
Budidaya tanaman BAYAM
BAYAM
Nama Latin: Amaranthus sp.
Nama Inggris: Amaranth
Famili : AMARANTHACEAE
1. Cultivar
Varietas bayam yang banyak ditanam dan mempunyai nilai komersial yang tinggi antara lain Cummy, Green Lake, Tark, Strayful. Selain itu dikenal juga varietas lokal yang tidak kalah bagus kualitasnya antara lain Giti merah, Giti hijau, Cimangkok, Kuningan, dan Sukamandi.
2. Syarat tumbuh
Bayam termasuk sayuran dataran tinggi. Tetapi
dapat hidup di dataran rendah. Bayam
menghendaki tanah yang subur dan gembur.
Derajat kemasaman (pH) yang diinginkan berkisar 6-
7. Tanah yang pHnya lebih tinggi atau lebih rendah
tanaman bayam tidak dapat tumbuh dengan baik.
3. Penanaman
Pengolahan tanah, pemberian pupuk dasar, dan
pembuatan bedengan. Pengolahan tanah untuk
semua jenis bayam hampir sama. Namun untuk
bayam tahunan agak berbeda karena memiliki
akar lebih panjang dari bayam cabut sehingga
pencangkulan lubang lebih dalam.
Pemberian pupuk dasar dilaklukan bersamaan
dengan pengolahan tanah. Bedengan penanaman
dibuat dengan ukuran 1 m x 5 m. Sebaiknya
bedengan dibut agak tinggi untuk mencegah
kelurnya benih bayam pada saat disiram. Diantara
bedengan dibuat parit untuk memudahkan
penyiraman. Perkiraan dosis dan waktu aplikasi
pemupukan disajikan pada Tabel 4. www.vitroculture.blogspot.com
Sebelum benih ditabur perlu dicampurkan dengan
abu dengan perbandingan 1 bagian benih : 10
bagian abuuntuk penaburan benih merata & tidak
bertumpuk-tumpuk. Benih bayam dapat ditaburkan
pada garitan yang dibuat menurut baris sepanjang
bedengan dengan jarak antar baris sekitar 20 cm.
Untuk keperluan benih 1Ha sekitarr 5-10 Kg benih.
Benih yang ditabur segera ditutup tanah tipis secara
merata kemudian disiram dengan menggunakan
gembor penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore
kecuali turun hujan.
4. Pemeliharaan
Aspek penting adalah penyiangan, pengemburan,
pemberian pupuk susulan dan pengendalian
hama/penyakit.
Penyiangan dan penggemburan dilakukan 2 MST
selanjutnya dua minggu sekali.
5. Penyakit yang sering menyerang adalah
Downy mildew
Ditandai dengan daun bagian atas menguning,
daun bagian bawah berwarna hijau keunguan
pada akhirnya berwarna cokelat. Sering timbul bila
ditanam pada musim hujan dan dingin.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memetik
daun yang diserang. Pemberantasan dengan
Dithane M-45 dosis 1,5-2 g/L
Spinach blight (oleh Virus Mozaik cucumber )
Ditandai dengan daun menyempit, mengecil,
menggulung dan berkerut. Permukaan daun
berwarna kuning biasanya menyerang daun muda.
Agar tidak meluas tanaman yang terinveksi harus
segera dimusnahkan karena belum ada obatnya.
Pencegahan dilakukan dengan penyiangan gulma,
penyemprotan lalat pembawa virus dengan Ambus
2 EC atau Lannate 2 EC 2 g/L
Penyakit noda daun (leaf spot)
Ditandai dengan noda cokelat pada setengah
bagian daun, meluas sehingga menghancurkan
daun. Agar tidak meluas harus tanaman
dihancurkan. Disemprotkan dengan Dithane M-45
dosis 1,5-2 g/L untuk tanaman yang belum diserang.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh kekurangan
unsur Mn. Upaya penanggulangan diberi Multitonik
(pupuk yang mengandung Mn) dosisnya
disesuaikan dengan kebutuhan. Pencegahan
dengan pemberian kapur pada saat pengolahan
tanah terutama pada tanah yang kekurangan Mn.
6 Pemanenan.
Bayam cabut : penjarangan dilakukan 20 HST
kemudian hari ke-25, 30 dan seterusnya hingga
semua selesai panen.
Bayam tahunan : penjarangan pada hari ke-20
sehingga menghasilkan jarak tanam 50 x 40 cm
panen dilakukan sekitar 3 MST caranya pucukpucuk
daun atau pada ujung-ujung cabang telah
dipetik. Selanjutnya pemanenan dilakukan sewaktuwaktu
bila di perhatikan.
Tuesday, April 6, 2010
BUDIDAYA BAWANG PUTIH
Nama Latin: Allium sativum L.
Nama Inggris: Garlic
Famili : LILIACEAE
1. Cultivar
Tawangmangu Baru, TW.
2. Pembibitan
Keberhasilan usaha tani bawang putih sangat ditunjang oleh faktor bibit karena produksinya tergantung dari mutu bibit yang digunakan. Umbi yang digunakan sebagai bibit harus bermutu tinggi, berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal, sehat, serta bebas dari hama dan patogen.
BUDIDAYA BAWANG PUTIH
Persyaratan Benih
Mutu bibit/benih bawang putih yang baik harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Bebas hama dan penyakit
b) Pangkal batang berisi penuh dan keras
c) Siung bernas
d) Besar siung untuk bibit 1,5 sampai 3 gram.
Penyiapan Benih
Benih bawang putih berasal dari pembiakan
generatif dengan umbinya. Kultur jaringan juga
merupakan metode untuk mengisolasi bagian
tanaman seperti jaringan serta menumbuhkannya
dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian
tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi
tanaman lengkap. Dengan kultur jaringan dapat
diperoleh perbanyakan mikro/produksi tanaman
baru dalam jumlah besar dalam waktu relatif
singkat. Umbi bawang putih dapat diperoleh di kios
penjual bibit atau produsen bibit. Selain itu, umbi
bibit juga dapat diperoleh dari hasil panen
sebelumnya yang telah dipersiapkan untuk umbi
bibit.
Penyimpanan bibit pada umumnya dilakukan oleh
petani di para-para dan digantung dengan cara
pengasapan. Cara ini praktis tetapi seringkali
merusak umbi bibit dan memiliki penampilan yang
kurang menarik dan memberikan warna yang
kecoklat-coklatan. Cara penyimpanan umbi bibit
lain terdiri dari penyimpanan alami, penyimpanan di
ruangan berventilasi dan penyimpanan pada suhu
dingin.
3. Pengolahan Lahan
Persiapan
Penanaman bawang putih biasanya dilakukan di
daerah persawahan yaitu setelah panen padi.
Pengolahan lahan bertujuan menyiapkan kondisi
tanah sesuai dengan yang diinginkannya. Secara
garis besar pengolahan tanah meliputi kegiatan
penggemburan (dicangkul/dibajak), pembuatan
bedengan dengan saluran air, pengapuran (untuk
tanah asam) dan pemberian pupuk dasar. Tanah
yang asam dinetralkan sebulan sebelum tanam. Bila
pH kurang dari 6, dosis kapurnya sekitar 1-2 ton/ha.
Jumlah bibit yang diperlukan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain:
a) pola tanam
b) jarak tanam
c) permukaan lahan
d) ukuran umbi bibit
Kebututuhan umbi bibit untuk bawang putih
apabila jarak tanam 20 x 20 cm jumlah kebutuhan
bibit antara 200.000-250.000 siung/200 kg siung, jarak
tanam 20 x 15 cm jumlah kebutuhan bibit antara
240.000-300.000 siung/sekitar 240 kg siung, dan untuk
jarak tanam 20 x 10 cm jumlah kebutuhan bibitnya
adalah antara 400.000-500.000 siung/sekitar 400 kg
siung. Jumlah bibit akan menentukan volume
produksi.
Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami apabila bekas panen
pada sawah masih ada maka perlu dibersihkan.
Apabila lahan yang hendak ditanami bukan bekas
sawah, tanah harus dibajak/dicangkul hingga
benar-benar gembur. Setelah itu lahan dibiarkan
selama kurang lebih 1 minggu sampai bongkahan
tanah tersebut menjadi kering, selanjutnya
bongkahan tanah tersebut dihancurkan dan
diratakan lalu dibiarkan lagi, beberapa hari
kemudian dilakukan lagi pembajakan untuk yang
kedua kalinya. Dengan cara seperti ini bongkahan
tanah akan hancur lebih halus lagi.
Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan mula-mula dilakukan
dengan menggali tanah untuk saluran selebar dan
sedalam ± 40 cm. Tanah galian tersebut diletakkan
di samping kiri dan kanan saluran, selanjutnya
dibuat menjadi bedengan-bedengan. Lebar
bedengan biasanya 80 cm dengan panjang 300
cm dan tinggi 40 cm. Tinggi bedengan dibuat
berdasarkan keadaan tanah lokasi. Kalau tanahnya
agak berat, bedengan perlu sedikit ditinggikan.
Apabila tanahnya berpasir, bedengan tidak perlu
terlalu tinggi.
Pengapuran
Keasaman tanah yang ideal untuk budidaya
bawang putih berkisar antara pH 6-6,8. Jika
keasaman tanah masih normal, pH nya berkisar 5,5-
7,5, belum merupakan masalah. Yang menjadi
masalah adalah apabila keasaman tinggi, pH nya
rendah. Untuk menurunkan tingkat keasaman
tanah, menaikkan pH, perlu dilakukan pengapuran.
Waktu pemberian kapur yang baik adalah pada
saat akhir musim kemarau menjelang musim hujan.
Pemberian kapur ke dalam tanah dilakukan 2-4
minggu sebelum tanaman ditanam. Selain itu, faktor
cuaca juga perlu diperhatikan pada saat
pemberian kapur.
Lahan yang akan dikapur harus dibersihkan dari
rumput pengganggu (gulma). Setelah bersih, tanah
dicangkul secara keseluruhan. Apabila lahan cukup
luas, sebaiknya dibagi menjadi beberapa petak
untuk mempermudah pemberian kapur dan agar
kapur yang diberikan merata ke seluruh lahan.
Pemberian kapur dilakukan dengan cara ditabur,
seperti memupuk padi. Setelah ditaburi kapur
secara merata, tanah dicangkul lagi agar kapur
bercampur dengan tanah dan cepat bereaksi.
Selanjutnya, tanah dibiarkan selama 2-3 minggu,
lalu diolah lagi untuk ditanami. Pengapuran
dilakukan secara bertahap agar kondisi lahan tidak
rusak. Adapun kebutuhan Dolomit untuk
menetralkan tanah adalah sebagai berikut:
a) pH tanah 4,0 = 10,24 ton/ha.
b) pH tanah 4,5 = 7,87 ton/ha.
c) pH tanah 5,0 = 5,49 ton/ha.
d) pH tanah 5,5 = 3,12 ton/ha.
e) pH tanah 6,0 = 0,75 ton/ha. By www.vitroculture.blogspot.com
Pemasangan Pupuk Dasar (Preplant)
Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk
kandang, Urea, TSP dan ZK. Pupuk kandang di
berikan sebanyak 20 ton /ha. Pemberian pupuk
dasar tidak perlu terlalu dalam, cukup disebarkan di
atas bedengan kemudian dicampur dengan tanah
atau dibenamkan ke dalam larikan yang dibuat
disamping barisan tanaman.
Pemberian Jerami Sebagai Mulsa
Untuk mempertahankan kondisi tanah setelah
penanaman, bedengan ditutup dengan jerami
secara merata. Penutupan dengan jerami jangan
terlalu tebal karena dapat mempersulit bibit yang
baru tumbuh untuk menembusnya. Selain untuk
mempertahankan kondisi tanah, mempertahankan
suhu dan kelembaban permukaan, penutupan
dengan jerami juga dimaksudkan untuk
memperbaiki struktur tanah, apabila jerami telah
membusuk.
4. Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
Penanaman bawang putih dapat dilakukan satu
atau dua kali setahun dengan mengadakan
penyesuaian varietas. Pola tanam bawang putih
dalam setahun dapat dirotasikan sebagai berikut:
a) Bawang putih - sayuran - bawang putih
b) Bawang putih - sayuran tumpang sari palawija -
bawang putih
c) Bawang putih - tumpang sari palawija atau
sayuran.
Penggunaan jarak tanam yang sesuai dapat
meningkatkan hasil umbi per hektar. Jarak tanam
yang terlalu rapat akan menghasilkan umbi yang
relatif kecil walaupun hasil per satuan luas
meningkat. Jarak tanam yang digunakan dapat
bervariasi menurut kebutuhan yang paling
menguntungkan, tetapi yang biasa digunakan
adalah (15 x 10) cm.
Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan
tugal atau alat lain. Kedalaman lubang untuk
penanaman bawang putih adalah 3-4 cm (setinggi
ukuran siung bibit). Setelah lubang tanam terbentuk,
umbi bibit siap ditanam.
Cara Penanaman
Sehari sebelum ditanam, bibit bawang putih yang
masih berupa umbi dipipil/dipecah satu per satu
sehingga menjadi beberapa siung. Agar lebih
mudah memecahkan umbi dan menghindari
terkelupasnya kulit siung, sebaiknya umbi dijemur
selama beberapa jam. Bibit siung tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang tanam di
atas bedengan. Lubang tanam jangan dibuat
terlalu dalam supaya bibit tidak terbenam
seluruhnya.
Jika bibit terlalu dalam ditanam atau terbenam
seluruhnya ke dalam tanah, tunas barunya akan
sukar tumbuh dan dapat terjadi pembusukan bibit.
Sebaliknya, lubang tanam juga jangan dibuat
terlalu dangkal karena nantinya tanaman akan
mudah rebah. Setiap lubang ditanam satu bibit dan
diusahakan agar 2/3 bagian yang terbenam ke
dalam tanah dengan posisi tegak lurus. Posisi siung
jangan sampai terbalik, sebab walau masih dapat
rumbuh, tetapi pertumbuhannya tidak sempurna.
5. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
Bawang yang ditanam kadang-kadang tidak
tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau
faktor bibit. Oleh karena itu, tidak mengherankan
jika dalam suatu lahan ada tanaman yang tidak
tumbuh sama sekali, ada yang tumbuh lalu mati,
dan ada yang pertumbuhannya tidak sempurna.
Jika keadaan ini dibiarkan, maka produksi yang
dikehendaki tidak tercapai. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan pertumbuhan yang seragam,
seminggu setelah tanam dilakukan penyulaman
terhadap bibit yang tidak tumbuh atau
pertumbuhannya tampak tidak sempurna. Biasanya
untuk penyualaman dipersiapkan bibit yang
ditanam di sekitar tanaman pokok atau disiapkan di
tempat khusus. Persiapan bibit cadangan ini
dilakukan bersamaan dengan penanaman
tanaman pokok.
Penyiangan
Pada penanaman bawang putih, penyiangan dan
penggemburan dapat dilakukan dua kali atau
lebih. Hal ini sangat tergantung pada kondisi
lingkungan selama satu musim tanam. Penyiangan
dan penggemburan yang pertama dilakukan pada
saat tanaman berumur 3-2 minggu setelah tanam.
Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada
umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma
masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat
umbi mulai terbentuk, penyiangan dan
penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati
agar tidak merusak akar dan umbi baru.
Pembubunan
Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan
pembubunan. Pembubunan terutama dilakukan
pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika
diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah
dari selokan/ parit di sekeliling bedengan, agar
bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi
lebih dalam sehingga drainase menjadi normal
kembali. Pembubunan juga berfungsi memperbaiki
struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan
tanah tertutup kembali sehingga tanaman berdiri
kuat dan ukuran umbi yang dihasilkan dapat lebih
besar-besar.
Monday, April 5, 2010
Budidaya BUDIDAYA BAWANG MERAH
Nama Latin: Allium ascalonicum L.
Nama Inggris: Shallot
Famili : AMARYLIDACEAE/LILIACEAE
1. Cultivar:
Sumenep, Lokal Brebes, Ampenan, Tanduyong, Ilocos.
2. Pemilihan bibit
Bibit bawang merah dipilih yang sehat : warna mengkilat, kompak/tidak keropos, kulit tidak luka dan telah disimpan 2-3 bulan setelah panen.
3. Persiapan lahan
Lahan dibuat bedengan dengan lebar 0.9 m.
Diantara bedengan dibuat parit dengan lebar 0,6
m dan kedalaman 0,5 m (sistem surjan), Bila pada
lahan kering kedalaman parit dibuat lebih dangkal.
Tanah diatas bedengan dicangkul atau dibajak
sedalam 20 cm sampai gembur.
Jarak tanam bawang merah pada musim kemarau
15x15 cm atau 15x20 cm, sedang pada musim
hujan 15x20 cm atau 20x20 cm .
Jika pH tanah kurang dari 5,6, dilakukan
pengapuran dengan menggunakan Kaptan atau
Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan
dosis 1-1,5 ton/ha.
Pupuk kandang sebanyak 15-20 ton/ha atau
kompos matang sebanyak 5-10 ton/ha disebar
dan diaduk rata dalan lapisan olah 1 minggu
sebelum tanam.
4. Penanaman
Jika umur simpan bibit yang akan ditanam kurang
dari 2 bulan, dilakukan “pemogesan” (pemotongan
ujung umbi) kurang lebih 0,5 cm untuk
memecahkan masa dormansi dan mempercepat
pertumbuhan tanaman.
Kemudian umbi bibit ditanam dengan cara
membenamkan seluruh bagian umbi.
5. Pemeliharaan
Penyiraman
Dilakukan sesuai dengan umur tanaman : umur 0-10
hari, 2x /hari (pagi dan sore hari), umur 11-35 hari,
1x/hari (pagi hari), umur 36-50 hari, 1x/hari (pagi
atau sore hari).
Pemupukan
Pemupukan dasar dilakukan pada saat tanam
(Preplant), sedangkan pemupukan susulan
dilakukan pada umur 14 hari dan umur 35 hari
setelah tanam.
Jenis yang diberikan aadalah Urea, ZA, SP-36,
pupuk diaduk rata dan diberikan di sepanjang
garitan tanaman. Perkiraan dosis dan waktu aplikasi
pemupukan disajikan pada Tabel 2. www.vitroculture.blogspot.com
Penyiangan
Dilakukan minimal dua kali/musim, yaitu menjelang
dilakukannya pemupukan susulan.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian HPT dilakukan bila perlu saja, yaitu
bila terlihat gejala adanya serangga atau penyakit.
Untuk mengendalikannya disemprotkan insektisida,
fungisida sesuai dosis yang dianjurkan atau
mencabut tanaman dan membakarnya .
6. Panen dan Pasca Panen
Untuk bawang konsumsi, waktu panen ditandai
dengan 60-70% daun telah rebah, sedangkan untuk
bibit kerebahan daun lebih dari 90%. Panen
dilakukan waktu udara cerah.
Pada waktu panen, bawang merah diikat dalam
ikatan-ikatan kecil (1-1,5 kg/ikat), kemudian dijemur
selama 5-7 hari. Setelah kering “askip” (penjemuran
5-7 hari ), 3-4 ikatan bawamg merah diikat menjadi
satu , kemudian bawang dijemur dengan posisi
penjemuran bagian umbi diatas selama 3-4 hari.
Pada penjemuran tahap kedua dilakukan
pembersihan umbi bawang dari tanah dan kotoran
Bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih 85%),
umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan
di gudang.
Saturday, April 3, 2010
BUDIDAYA BAWANG DAUN
Bawang daun Nama Latin: Allium fistulosum L.
Nama Inggris: Welsh onion
Famili : LILIACEAE
1. Cultivar
Rp (Lokal Cipanas), Fragrant, Miranda, Freda, Lorie, Linda
2. Pembibitan dengan Persemaian
Benih disemaikan dalam bedengan dengan lebar 100-120 cm dan panjang lahan. Tanah diolah sedalam 30 cm campur pupuk kandang yang telah diayak sebanyak 2 kg/m.
Bedengan diberi atap plastik bening setinggi 100- 150 cm di sisi Timur dan 60-80 cm di sisi Barat.
Benih ditaburkan di dalam larikan melintang sedalam 1 cm dengan jarak antar larikan 10 cm.
Tutup dengan daun pisang/karung goni basah.
Setelah berkecambah penutup dibuka.
Penyiraman setiap hari.
Tanaman dipupuk dengan pupuk daun sebanyak 1/3 - 1/2 dosis anjuran dengan cara semprot (umur 1 bulan).
Bibit berumur 2 bulan dengan ketinggian 10-15 cm
siap dipindah tanamkan.
Pembibitan dari Anakan
Rumpun yang akan dijadikan bibit berumur 2,5
bulan dan sehat.
Rumpun dibongkar bersama akarnya, bersihkan
tanah yang menempel dan akar/daun tua.
Pisahkan rumpun sehingga didapatkan beberapa
rumpun baru yang terdiri atas 1-3 anakan.
Buang sebagian daun.
Bibit disimpan di tempat lembab dan teduh selama
5-7 hari.
3. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan dilakukan 15-30 hari sebelum
tanam.
Pembedengan untuk tanah sawah/tanah darat
(lahan kering):
a) Bersihkan areal dari gulma dan batu/kerikil.
b) Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga gembur.
c) Buat parit untuk pemasukan dan pengeluaran
air.
d) Buat bedengan selebar 80-100 cm, tinggi 30 cm
dengan lebar antar bedengan 25-30 cm.
e) Campur merata dengan tanah, 10-15 ton/ha
pupuk kandang dan ratakan permukaan
bedengan.
Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5
dengan 1-2 ton/ha kapur dolomit dicampur merata
dengan tanah pada kedalaman 30 cm.
Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan
disajikan pada Tabel 1.
4. Penanaman
Biasanya ditanaman dengan pola tanam tumpang
sari.
Bibit ditanam di antara tanaman utama yang
berumur lebih panjang dari bawang daun.
Sebelum kanopi tanaman utama saling menutup,
bawang daun harus sudah dipanen.
Sistem tumpang sari yang sekarang banyak
ditanam adalah dengan tanaman cabe, wortel
dan sayuran daun lain.
Waktu tanam terbaik awal musim hujan (Oktober)
atau awal kemarau (Maret).
Lubang tanam dibuat pada jarak 20 x 20 cm
sedalam 10 cm.
Sebelum penanaman, bibit dari persemaian
dicabut dengan hati-hati, sebagian akar dan daun
dipotong.
Sebagian akar dari bibit dari rumpun induk juga
dibuang.
Rendam dalam larutan fungisida konsentrasi rendah
(30-50 prosen dari dosis anjuran) selama 10-15 menit.
Tanam bibit dalam lubang dan padatkan tanah di
sekitar pangkal bibit pelan-pelan.
5. Pemeliharaan
Penyulaman paling lama 15 hari setelah tanam.
Gulma disiangi dua kali, yaitu umur 3-4 minggu dan
6 minggu dengan cangkul/kored.
Pembubunan bagian dasar tunas selama 4 minggu
sebelum panen
Potong tangkai bunga dan daun tua untuk
merangsang pertumbuhan anakan.
Siram 2 kali sehari
Tidak boleh becek/terlalu basah.
Penyemprotan pestisida gunakan jika perlu /jika
sudah ada tanda-tanda awal munculnya hama
dan penyakit.
Hama dan Penyakit
Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua Hbn.)
Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan
tanaman bukan Liliaceae dan pengendalian kimia
dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75 SP, Cascade
50 EC atau dengan perangkap ngengat.
Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) Pengendalian
mekanis: mengumpulkan ulat di malam hari,
menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman
dengan tanaman bukan Liliaceae. Pengendalian
kimia: umpan beracun yang dipasang di malam
hari berupa campuran 250 gram Dipterex 95 Sl 125,
10 kg dedak dan 0,5 gram gula merah dan
dilarutkan dalam 10 liter air; Insektisida berupa
Dursban 20 EC atau Hostahion 40 EC.
Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci Lind.)
Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae;
menanam secara serempak; memasang
perangkap serangga berupa kertas/dengan
insektisida Mesurol 50 WP.
Bercak ungu (Alternaria porri (Ell.) Cif.)
Pengendalian: cara perbaikan tata air tanah,
pergiliran tanaman dengan tanaman bukan
Liliaceae dan menggunakan bibit sehat. Fungisida
yang digunakan adalah Antracol 70 WP, Dithane M-
45, Orthocide 50 WP atau Difolatan 4F.
Busuk daun/embun tepung (Peronospora destructor
(Berk.) Casp) Pengendalian: menggunakan
benih/bibit sehat, rotasi tanaman dengan tanaman
bukan Liliaceae dan fungisida Dithane M-45,
Antracol 70 WP atau Daconil 75 SP.
Busuk leher batang (Bortrytis allii Munn.)
Gejala: leher batang menjadi lunak, berwarna
kelabu, bentuknya menjadi bengkok dan busuk.
Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliacea,
penggunaan benih/bibit sehat, meningkatkan
kebersihan kebun dan tanaman dan fungisida
Dithane M-45 atau Daconil 75 WP.
Antraknose (Collectotrichum gleosporiodes Penz.)
Gejala: daun bawah rebah, pangkal daun
mengecil dan tanaman mati mendadak.
Pengendalian: menggunakan bibit/benih sehat,
perbaikan tata air, rotasi tanaman dengan
tanaman bukan Liliaceae, mencabut tanaman
yang sakit dan fungisida Antracol 70 WP dan
Daconil 75 WP.
6. Panen
Umur Panen 2,5 bulan setelah tanam.
Jumlah anakan maksimal (7-10 anakan), beberapa
daun menguning.
Seluruh rumpun dibongkar dengan cangkul/kored di
sore hari/pagi hari.
Bersihkan akar dari tanah yang berlebihan.
Wednesday, March 31, 2010
Budidaya Tanaman Jamur Merang
I. Syarat tumbuh Tanaman Jamur Merang
1.1. Iklim
a) Lokasi penanaman jamur harus terlindung dari angin yang kencang, (angin laut yang terlalu kencang akan menghasilkan jamur yang rusak).
b) Jamur merang sangat dipengaruhi oleh banyaknya curah hujan. Bila curah hujan tinggi atau intensitas cahaya matahari terlalu tinggi, maka produksi jamur akan rendah, namun apabila cuaca berawan (kelembaban dan suhu udara tinggi) produksi jamur merang akan tinggi.
c) Dalam budidaya jamur dibutuhkan cahaya matahari secara tidak langsung. Karena itu bila lokasi terlalu panas sirkulasi udara di sekitarnya harus baik.
d) Jamur merang merupakan jamur tropika dan sub tropika yang membutuhkan suhu udara yang cukup tinggi untuk pertumbuhannya. Suhu udara minimum udara yang dibutuhkan antara 20-28 derajat C, bila suhu udara turun hingga di bawah 20 derajat C maka jamur merang tidak akan berproduksi, walupun tumbuh hanya sampai stadia kancing, jamur akan mati atau busuk.
e) Kelembaban udara merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan jamur. Umumnya kelembaban udara yang dibutuhkan sekitar 80-90%.
1.2. Media Tanam
a) Lokasi dekat sumber air dan tanah memiliki sirkulasi air baik.
b) Tanah subur banyak mengandung organik.
c) Tanah tidak terlalu padat, (yang baik adalah lempung berpasir)
d) Untuk produksi jamur yang tidak besar tanah di kebun dapat digunakan, sedangkan untuk produksi skala besar, daerah pesawahan adalah lokasi yang terbaik.
1.3. Ketinggian Tempat
Tanaman jamur merang dapat tumbuh baik pada daratan rendah sampai sedang.
II. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
2.1. Pembibitan
2.1.1. Persyaratan Bibit
a) Bibit yang baik adalah bibit yang miseliumnya tumbuh merata keseluruh media tumbuh. Hindari bibit dengan miselium terlalu padat, atau terlalu tipis dan jarang.
b) Pertumbuhan miselium bibit tidak boleh menunjukan pertumbuhan yang bersifat sektoritas (pengelompokkan pertumbuhan miselium dalam media tumbuh)
c) Jangan gunakan bibit yang menampakkan tidak adanya pertumbuhan miselium pada beberapa bagian media tumbuh. Ini menujukkan bahwa bibit telah terkena kontaminasi.
d) Gunakan bibit jamur siap tanam yang baik kualitasnya tidak terlalu muda (tidak ada spora berwarna merah jambu) atau terlalu tua (umumnya bibit lebih dari 2 bulan)
e) Gunakan bibit siap tanam berumur lebih dari 2 minggu hingga 5 minggu setelah inokulasi.
f) Apabila kita membeli bibit, belilah bibit yang diketahui tanggal inokulasinya. Bibit berumur lebih dari 4 minggu setelah inokulasi (tanam) adalah bibit yang kadaluarsa.
g) Bibit siap tanam jamur merang tidak boleh disimpan dalam refrigator (lemari es) atau inkubator bertemperatur rendah.
h) Satu botol/kantong plastik bibit telah dibuka, maka seluruh bibit harus digunakan (untuk menghindari kontaminasi).
i) Jangan gunakan bibit sisa (yang disimpan kembali), karena akan menggangu pertumbuhan jamur.
2.1.2. Penyiapan Bibit
a) Peralatan dan bahan yang diperlukan:
1. Kompor digunakan untuk sterilisasi.
2. Autoklaf: menyerupai alat perebus beras/penanak nasi dengan diberi tambahan alat manometer (alat pengukur besar tekanan uap) digunakan untuk tempat bahan yang disterilkan. Dalam hal ini bisa dipakai “dandang soblog” yaitu alat perebus /penanak nasi dari almunium.
3. pH meter untuk mengontrol keasaman bahan yang disterilkan (media bibit).
4. pH meter dan termometer untuk mengontrol suhu.
5. Bahan bahan yang diperlukan :
(a) Untuk pembuatan biakan murni
- Tabung reaksi, berupa tabung gelas dengan penutup dari kapas
- Media agar (berasal dari rumput laut atau dibeli di toko)
- Sari buncis, taoge, katul dan gula
- Almari es untuk penyimpanan
(b) Untuk pembuatan bahan starter I/II (bahan awal atau bahan dasar), dibutuhkan:
- Gandum (sorgum sp) atau cantel (sorgum vulgare) banyak digunakan karena murah.
- CaCO3 (kapur mati)
- Gips dan katul
(c) Untuk pembuatan bahan spawning (bahan tanam), dipergunakan bahan seperti bahan starter, lebih murah bila medianya diganti dari merang atau dari jerami (bisa ditambah serbuk gergaji). Sebagai tempatnya, berupa botol bisa diganti dengan kantong plastik yang tebal.
b) Kamar enting atau laborat kecil
Arti mengenting pada botani tumbuhan tingkat tinggi ialah menyambung/okulasi, tetapi pada ilmu mikrobiologi meng-enting diartikan menumbuhkan suatu jasad (renik) ke dalam suatu media tertentu.
Sedangkan kontaminasi diartikan tumbuhnya suatu jasad (renik) pada suatu media tanpa kita kehendaki. Misalnya tumbuh Coprinus (jamur padi liar) atau penicilium pada media merang/cantel. Untuk mencegah kontaminasi, diperlukan suatu ruangan untuk menumbuhkan jasad, yang bebas dari jasad lain disebut kamar enting.
Kamar enting ini hendaknya khusus, bersih dan bebas dari jasad yang merugikan. Sehingga tiap kali kita akan meng-enting ruangan disemprot larutan formaldehyde 2-5%. Sedangkan manusianya yang meng-enting dan masuk ruangan, disemprot formalin dengan kadar lebih rendah, ataupun mandi dengan sabun pencuci hama (karbol).
Kamar enting dilengkapi dengan kamar tambahan untuk penyimpanan bibit, almari es dll, pada kamar tersebut dilengkapi peralatan laborat misalnya: rak bibit dan botol, meja dan kursi untuk tempat meng-enting dengan peralatannya, (misalnya pinset, pisau kecil, lap, bahan desinfektans dll).
Untuk tempat yang lebih sederhana, tempat meng-enting dibuat dari tempat yang lebih kecil, misalnya almari khusus (bak) asal tangan peng-enting dan botol serta medianya bisa masuk ke dalam ruangan kecil sehingga ruangan tersebut dapat dibersihkan dari semua jasad renik. Ruangan/almari khusus ditutup dari kelambu kain dan mendapat sinar/cahaya yang terang. Atau setiap kamar dijadikan kamar enting, asal bebas dari jasad yang tidak dihendaki, (bentuknya sangat kecil dan tidak terlihat oleh mata). Maka diperlukan obat pemberantas hama/penyakit, misalnya disinfektans (sublimat)
c) Pembuatan bibit
1. Secara sederhana
Jamur berkembang tidak hanya melalui spora, dari bagian lainpun bisa (tangkai/batang atau bagian tubuh lainnya). Ambilah jamur yang belum mekar dan iris halus-halus. Irisan itu dicampur abu sekam dengan perbandingan: jamur 3 bagian, abu sekam 6 bagian dan sekam 2 bagian. Campuran ditaruh di bak dan disirami sampai basah kemudian ditutup dengan daun pisang. Sesudah itu disimpan ditempat dingin dan bersih. Berhasil/tidak sistem ini tergantung bersihnya tempat serta ruangan yang digunakan sebagai tempat pembibitan.
2. Pembiakan secara mikrobiologis
(a) Pembuatan biakan murni (biang)
Untuk pembuatan biang diperlukan ketelitian, kebersihan dan bersifat ilmiah. Yang harus diperhatikan ialah: kebersihan pisaunya, jamur yang akan diiris bersih dari bakteri, meng-enting harus di kamar enting yang sudah disemprot desinfektan terlebih dahulu. Body jamur yang telah diiris di kamar entingkan ke dalam media ‘agar’ yang telah diberi adonan sari buncis dan taoge. Sari buncis dan taoge ini, dimaksudkan sebagai media yang mempunyai zat tumbuh untuk pengembangbiakan bakteri/mikro-organisme. Sebagai penentuan jumlah taoge, buncis (atau kalau diganti katul+gula) dan agarnya, bukanlah perbandingan beratnya, namun yang penting asal keasaman larutan tidak di bawah 7 (pH=7-7,2). Spora yang telah tumbuh dalam media (ditabung reaksi) tersebut, disebut biakan murni. Biakan murni dapat bertahan bertahun-tahun bila disimpan dalam almari es.
(b) Pembuatan bahan starter I atau starter II.
Untuk memperbanyak bibit dari biakan murni, dibuatlah bahan starter I/II, diperlukan bahan: cantel/gandum/jagung ditambah CaCO3 gips dan katul. Untuk pembuatan bahan starter I/II, pada hakekatnya sama dengan pembuatan bahan spawning (bahan tanam) hanya pada pembuatan bahan starter pengambilan bahan-bahannya diperhalus dan diperkecil.
(c) Pembuatan bahan spawning
Untuk membuat bahan spawning (starter) yang siap di enting maka diperlukan 2 kali sterilisasi bahannya.
Sterilisasi I: memanaskan bahan media yaitu cantell selama ½ jam dengan tekanan puncak 1,1 atm. Selama 5 menit. Merebusnya di tempat autoklaf, bila digunakan media gandum, tekanan puncak 1,1 atm selama 7 menit
Setelah bahan tersebut di tus (dituntaskan airnya) baru ditambah campuran: CaCO3 6% gips 2% dan katul 3%. Bila campuran bahan dan media telah dimasukan ke botol, bisa dilakukan sterilisasi yang ke II. Sterilisasi yang ke II ini berlangsung 2 1/2 jam, dan bila tekanan bisa meyakinkan 1,1 atm, lamanya cukup 1 jam saja.
Botol yang disterilisaikan ke II ini, dimasukan ke dalam kamar enting dan bisa di entingkan dengan biakan murni, pada suhu 22-25 derajat C. bahan spawning bisa digunakan sebagai bahan penanaman setelah 2-3 minggu. Lama bibit dalam botol bisa bertahan 3 sampai 6 bulan, apabila makin lama setelah itu pertumbuhan akan kurang memuaskan.
3. Pembuatan bibit secara praktis
Dalam pembuatan bahan starter/bahan spawning sama seperti di atas, hanya bahan medianya ialah merang atau jerami. Sebagai campurannya, diambilkan dari bahan: CaCO3 dan katul, yang disebarkan secara merata ke media merang yang telah disterilisasi (II). Jumlah bahan juga tidak mementingkan perbandingan beratnya. Tetapi kadar keasamannya, berkisar pH 7-7,2.
Bibit jamur merang siap tanam dapat diperoleh diantaranya:
a) Aderis Saragih: Perpustakaan Agronomi IPB . Jln raya Pajajaran Bogor
b) P. Suhardiman: SFMA Ag-B1, Tromol Pos 5 Parung Kuda, Bogor.
2.1.3 Media Tumbuh Bibit
Bibit jamur adalah bakal jamur, baik bibit induk atau bibit siap tanam. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah media tumbuh.
Umumnya limbah pertanian, baik secara manunggal atau kombinasi sari dua atau lebih macam bahan dapat digunakan sebagai media tumbuh bbit jamur atau jamur itu sendiri misalnya:
1. Potongan jerami, tulang daun tembakau
2. Serbuk gergaji
3. Daun eceng gondok
3. Biji-bijian sareal
5. Daun teh yang telah dipakai
6. Limbah kapas kulit atau pulp kapas
7. Daun lamtoro
8. Dedak
9. Daun pisang
2.1.4. Pemeliharaan Bibit
a) Fasilitas dan peralatan sterilisasi harus dalam kondisi steril mungkin untuk mengindari atau mengurangi kontaminasi fungi atau bakteri.
b) Bibit jamur dapat disimpan dalam refrigator agar terhambat pertumbuhannya untuk sementara. Namun sebelum digunakan atau langsung ditanam bibit harus diinkubasikan (disimpan) dalam temperatur ruangan yang mengembalikan sifat aktif pertumbuhannya
c) Penyimpanan atau inkubasi bibit setelah inokulasi dalam temperatur ruangan tidak boleh lebih dari 5 minggu.
d) Bibit siap tanam untuk jamur merang tidak boleh disimpan dalam refrigator atau inkubator bertemperatur rendah.
e) Penggunaan bibit yang kadaluarsa (umur bibit lebih dari 5 minggu setelah inokulasi.) tidak akan menghasilkan produksi yang baik.
2.1.5. Kuntitas Bibit
Umumnya bibit yang diperlukan untuk budidaya jamur merang adalah 2 botol bibit dalam substrat (botol 500 cc) atau 2 kantong plastik untuk menanami 1 m2 media jerami dengan 5 lapisan (cara tradisional) dengan cara ini dapat diperoleh 2-3 jamur merang (stadia telur dan satu stadia perpanjangan)
2.2. Pengolahan Media Tanam
2.2.1 Cara Tradisional (di luar kumbung)
a) Persiapan
Media yang umumnya digunakan untuk membudidayakan atau menanam Jamur Merang adalah jerami. Akan tetapi jamur ini dapat pula tumbuh pada limbah kapas, sorgum, gandum, jagung, tembakau limbah sayuran, ampas tebu, sabut kelapa, daun pisang, eceng gondok, ampas sagu, serbuk gergaji dsb. Untuk budidaya Jamur Merang di luar kumbung, jerami masih merupakan media utama yang lebih banyak digunakan.
b) Pembukaan lahan
Tanah yang akan digunakan untuk menanam jamur harus dibajak dan digenangi selama 2 hari untuk mematikan cacing tanah dan serangga penggangu yang hidup dalam tanah. Kemudian air dikeringkan. Setelah tanah cukup kering, dibuat barisan dasar tanggul-tanggul (tanah yang ditinggikan). Setiap dasar tanggul harus mempunyai lebar 45 atau 90 cm, panjang 2-3 m, dan tinggi 15 cm. Bagian tengah tangggul agak lebih tinggi untuk memudahkan drainasi pertanggul. Permukaan tanggul harus rata tidak bergelombang. Jarak satu tanggul ke tanggul lain 45 cm. Selain untuk memudahkan pemeliharaan, kontrol dan panen, tempat antar tanggul juga berfungsi sebagai parit bila dialiri air. Sehingga memudahkan pengairan bedengan jika diperlukan. Arah dasar tanggul harus diatur hingga mengarah ke barat-timur, sehingga cahaya matahari yang diterima oleh bedengan seragam dan dapat mempertahankan yang sama pada sisi-sisi sepanjang bedengan tempat tubuh buah jamur akan tumbuh.
c) Perendaman dan pemupukan jerami untuk pengomposan
Bila menggunakan jerami, ikat jerami seberat ± 1.828 g menjadi satu ikatan. Tanpa melepas ikatan, ikatan yang kering ini direndam dalam air, setelah lapisan pertama tersusun, siram ikatan tersebut dengan air atau dengan larutan ± 46 dedak dengan 4 galon residu desteril. Campuran ini cukup untuk ±183 kg jerami kering (1 galon ±4,5 liter). Setelah lapisan pertama selesai disirami larutan campuran, susun lapisan ikatan jerami tersebut harus dipres atau ditekan sekuat-kuatnya sewaktu disusun. Kemudian diselubungi dengan lembaran plastik untuk menjaga agar kelembaban tetap tinggi. Pengomposan dilakukan selam 3-4 hari bergantung pada cuaca. Temperatur dalam lap jerami akan naik beberapa jam setelah penimbunan, dalam 24 jam pengomposan mungkin akan mencapai temperatur setinggi 48-50 derajat C. tiga hari setelah jerami melunak dan warnanya menjadi kecoklatan, temperatur akan mencapai 46 derajat C. pada suhu tersebut organisme penggagu biasanya telah mati terutama spora coprinus yang berasal dari udara.
d) Pembuatan bedengan jerami pada dasar tanggul
Kira-kira 2.742 gram jerami yang telah difermentasikan diikat. Sebelumnya peras jerami tersebut kemudian atur untuk menjadi satu ikatan dengan panjang ± 45 cm dan diameter ± 10cm. Kedua ujung ikatan harus diratakan (dipotong dengan pisau dasar atau gunting besar), kemudian ikat pada 2/3 bagian dari ujung jerami. Setelah jerami terikat erat kemudian atur dalam dua baris pada dasar tanggul. Tanggul yang merupakan tanah yang ditinggikan dapat dibuat yang disemua atau diberi alas bambu, atau kayu atau batu. Tujuan membasahi dasar tanggul ialah agar tanah atau dasar tanggul tidak menyerap air dari ikatan fermentasi jerami. Untuk satu lapisan dibutuhkan 40 sampai 50 ikatan jerami yang terikat erat. Ikatan harus kuat benar sehingga waktu disusun akan membentuk ruang antara dua ikatan untuk aerasi yang dapat mencegah terjadinya kelebihan air. Dalam satu bedengan dapat disusun 5 lapisan. Bila jerami telah terikat kuat dalam bundel, maka udara tidak dapat masuk ke dalam ikatan atau bundel sehingga proses pelapukan dapat diperlambat dengan demikian suplai hara dapat diperpanjang untuk periode yang lebih panjang. Budidaya jamur dengan cara ini akan memperpanjang masa panen.
2.2.2. Cara Modern (dalam kumbung)
a) Persiapan
Bahan yang digunakan sebagi media tumbuh untuk menanam jamur denagn cara modern/semi modern dapat bermacam-macam. Bahan yang biasa digunakan dan memberikan hasil produksi tinggi adalaah limbah kapas dan jerami padi. Limbah kapas merupakan zat pembakar untuk membakar, sedangkan jerami merupakan bahan untuk pelapukan. Jerami yang digunakan merupakan jerami segar seperti halnya yang digunakan dalam budidaya jamur di luar kumbung. Jerami dapat dipotong-potong atau tidak, sedangkan limbah kapas yang digunakan merupakan limbah kapas dari pabrik pemintalan.
b) Fermentasi media tumbuh
Media tumbuh yang digunakan merupakan campuran limbah kapas dan jerami dengan perbandingan 2:1 atau 1:1 dan 3-4% kapur pertanian. Bahan ini dicampur merata, dan direndam dalam air selama 2-3 jam atau 24 jam, kemudian diperas dan ditumpukan pada ruangan dengan dasar lantai/semen membentuk timbunan dengan ukuran 1,5x1,5x1,5 m3. Kemudian timbunan ini ditutup dengan selubung plastik dan dibiarkan untuk fermentasi selama 2-4 hari.
Untuk yang hanya menggunakan kompos jerami sebagai media tumbuh. Dalam hal ini jerami yang direndam diberi 1% kapur pertanian dan 1% urea dan difermentasi selama 6 hari. Setiap hari timbunan jerami harus dibalik. Sebelum diletakan dalam rak-rak bedengan, kompos jerami ini ditambah 10% dedak, 1% superfosfat dan 1% kapur pertanian. Kompos jerami ini dapat digunakan dengan diberi lapisan lebah kapas atau eceng gondok kering yang telah direndam dan di fermentasi pada waktu membuat lapisan media tumbuh dalam rak-rak bedengan.
c) Pembentukan kumbung
Kumbung dapat dapat dibuat dengan rangka besi dan dinding plastik, rangka bambu dengan dinding nipah/gibig dan atap plastik, atau bangunan batu yang permanen. Ukuran yang ideal adalah lebar 4 m, panjang 6 m dan tinggi 2,5 m. kumbung yang digunakan terdiri dari dua baris rak bedengan dari kawat atau bambu dengan rangka besi atau kayu. Satu baris terdiri dari 3-5 tingkat rak bedengan. Kumbungan ini harus dilengkapi dengan jendela dan atau electrik blower untuk sirkulasi udara, juga lampu (50 foot candle) yang dapat dipindah-pindah atau dicabut bila sedang dilakukan pasteurisasi, dan dipasang pada waktu pembentukan tubuh buah. Lampu TL day light 60 watt sebanyak 2 buah dan 2 heater bisa untuk menjaga temperatur ruangan +28 derajat C.
Lantai kumbung harus disemen untuk menjaga kebersihan, dan seluruh kumbung harus dapat tertutup rapat untuk pemanasan uap dan sterilisasi.
d) Pembangkit uap
Pembangkit uap dapat dilakukan dengan menggunakan 2 buah tangki (200 L) yang disambung dengan pipa bambu dan paralon ke dalam kumbung. Tangki berisi air diletakan dengan cara dibaringkan di atas tungku di luar kumbung, kemudian disambung dengan pipa bambu (yang melekat pada tangki) dan pipa paralon yang tebal ke dalam kumbung. Di dalam kumbung, pipa ini berlubang lubang untuk mengeluarkan uap air panas yang berasal dari air dalam tangki yang dididihkan. Ukuran pipa paralon adalah 2-3 cm. Pipa paralon diletakan di atas dasar kumbung ditengah-tengah ruangan, dan setiap meternya diberi lubang 8 buah untuk mengeluarkan uap panas. Isi air tangki (kapasitas 200 L) yang dihubungkan dengan pipa bambu cukup untuk memberi uap panas dalam kumbung yang berukuran 4x6x2,5 cm.
e) Pengisian media dan pasteurisasi
Setelah fermentasi media selam 2-4 hari, bahan kompos kemudian dimasukan ke dalam rak-rak bedengan setinggi 15-20 cm. Kemudian uap panas dimasukan ke dalam kumbung melalui pipa untuk mencapai temperatur 70 derajat C selama 2-4 jam. Setelah pasteurisasi, biarkan udara segar masuk dan temperatur turun hingga mencapai 30-50 derajat C. biasanya penurunan temperatur memakan waktu ±24 jam.
2.3. Teknik Penanaman
2.3.1. Cara Tradisional (di luar kumbung)
a) Penentuan pola tanam
Bibit jamur diletakan pada jarak ±7,5 cm dari sisi bedengan. Jarak bibit satu dengan yang lainnya adalah 10-15 cm.
b) Cara penanaman
Jumlah bibit yang diperlukan untuk satu bedengan kira-kira 6 botol (±500-750 gram) bibit. Sebelum penanaman bibit, basahi lapisan jerami dengan menggunakan sprayer (semprotan tangan). Setelah peletakan bibit selubungi bedengan dengan plastik untuk mencegah sinar matahari langsung dan penguapan. Selubung plastik sekali-kali dibuka untuk mengatur sirkulasi, udara dan cahaya, karena jamur merang membutuhkan udara dan sedikit cahaya untuk pembentukan tubuh buah. Selama pembentukan tubuh buah, selubung plastik dibuka kecuali kalau hujan. Air hujan akan merusak miselia dan tubuh buah jamur. Begitu hujan berhenti selubung plastik harus dibuka untuk mencegah akumulasi panas atau kelembaban dalam bedengan.
2.3.2. Cara Modern (dalam kumbung)
Setelah temperatur turun menjadi 30-35 derajat C, 8-12 jam kemudian bedengan dalam rak-rak siap untuk ditanami bibit. Bibit yang diperlukan 1-6% dari berat basah media, tergantung pada starin bibit. Bibit yang digunakan sudah dipisahkan, tidak berupa gumpalan lagi. Bibit tersebut disebarkan diseluruh permukaan kompos. Untuk rak bedengan dengan panjang 3 meter dan lebar 1 meter dibutuhkan 4-6 botol bibit berkapasitas 500 cc. Setelah peletakan bibit, tutup jendela dan pintu selam 3 hari. Usahakan agar temperatur dalam ruangan dipertahankan untuk memberi kesempatan miselium tumbuh dan berpenetrasi keseluruh kompos media tumbuh.besarnya temperatur ini sebenarnya sangat tergantung pada starin jamur yang digunakan. Namun umumnya jamur yang ada di Indonesia tumbuh baik pada temperatur 30-35 derajat C. selubung plastik dapat juga digunakan untuk menaikan temperatur.
Delapan hari setelah peletakan bibit, introduksikan atau masukan cahaya untuk mempercepat pembentukan primodia dari jamur. Begitu primodia terbentuk, sirkulasi udara segar perlu dimulai untuk mempercepat perkembangan tubuh buah jamur.
2.4. Pemeliharaan Tanaman
2.4.1 Cara Tradisional (di luar kumbung)
a) Pemupukan
Untuk setiap bedeng, dua hingga tiga sendok urea yang dilarutkan dalam air dapat disemprotkan ke primodia jamur.
Kompos atau bibit terkontaminasi harus di musnahkan (dibakar).
b) Pengairan dan penyiraman
Tidak dianjurkan penyemprotan insektisida kecuali pada permulaan periode pembuatan bedeng terutama bila pembuatan bedeng yang kedua kalinya.
Azodrin dan Malathion dapat digunakan, tetapi tidak disemprotkan langsung pada periode pengembangan buah.
c) Pemeliharaan lain
1. Selubung plastik digunakan untuk menitupi bedengan hingga 5-6 hari pertama setelah peletakan bibit. Selain untuk mencegah masuknya sinar matahari langsung juga untuk membuat temperatur dalam dedengan sekitar 30-50 derajat C juga kelembaban dipertahankan sehingga penyiraman pada bedengan tidak diperlukan hingga 10 hari telah peletakan bibit.
2. Parit disekitar disekitar bedengan dapat diisi air untuk menjaga kelembaban tinggi (>80%) juga untuk mencegah merayapnya serangga ke tanggul bedengan.
3. Selama pembentukan tubuh buah, penyiraman air agar dengan sprayer tidak boleh dilakukan.
2.4.2. Cara Modern (dalam kumbung)
a) Pengairan dan penyiraman
1. Semprotkan air dengan sprayer pada permukaan rak bedengan.
2. Campurkan urea pada air yang disemprotkan (2-3 sendok makan urea ke dalam 20 liter air) hali ini dilakukan bila bedengan kering.
b) Pemeliharaan lain
1. Usahakan suhu bisa mencapai 30-35 derajat C, sedangkan kelembaban berkisar 80-90%
2. Membuang jamur-jamur liar, terutama jenis coprinus. Bila tumbuh bibit penyakit, kompos yang terkena harus dibuang.
2.5. Hama dan Penyakit
2.5.1. Hama
a) Tikus
Pengendalian: dengan memberi umpan yang di bubuhi racun (phiosphit) atau kleratfam
b) Serangga/kutu dan kecoa
Pengendalian: ruangan shed di semprot dengan formalin 0,1-0,2%
2.5.2. Penyakit
a) Corpinus
Jamur padi liar, tumbuhnya berkelompok dan biasanya lebih cepat tumbuh dari pada jamur merangnya.
b) Penicilium
Jamur penisilin, warnanya hijau menempel pada jerami dan bisa mengalahkan mycelium jamur merang. Penyebab: tidak dijalankannya pasteurisasi; jalannya pasteurisasi kurang sempurna; kontaminasi baik dari alat -alat, rak-rak shed, bibit yang kurang bersih. Pengendalian: (1) preventif: shed sebelum dimasuki kompos terlebih dahulu disemprot dengan kadar 2-3% atau shed kosong, terlebih dahulu dipasteurisasi sampai temperatur 60-70 derajat C; menjaga kebersihan alat-alat fisik manusia, bibit dll; usahakan pasturisasi berjalan sempurna. (2) curatif: kompos yang terken serangan (penicilium) di pisahkan dan dibuang; untuk coprinus selalu di usahakan dicabut dan dibuang.
2.6. Panen
2.6.1. Cara Tradisional (di luar kumbung)
a) Ciri umum panen
1. 8-10 hari setelah peletakan bibit, primodia atau tubuh buah jamur berwarna putih mulai nampak
2. Buka selubung plastik beberapa menit untuk pertukaran udara, jangan sirami lagi.
3. Dua sampai tiga hari setelah primodia terbentuk , jamur siap panen
b) Cara panen
Panen Jamur Merang hendaknya dilakukan pada stadia kancing, sebelum stadia perpanjangan. Jamur harus dipetik dua kali perhari (tiap pagi hari) selama tiga hari. Sering tubuh buah jamur yang terbentuk tidak dalam stadia yang seragam. Oleh karena itu pemetikan jamur harus hati-hati jangan sampai merusak jamur yang masih dalam stadia kepala jamur, atau kancing kecil.
c) Periode panen
Masa panen pertama (selama 3 (tiga) hari) akan diikuti masa panen kedua setelah periode istirahat selama 5-7 hari. Hal ini berlangsung terus selama satu hingga dua bulan
d) Perkiraan produksi
Dengan cara budidaya jamur yang dikemukakan di atas dengan ukuran bedeng yang sama diperoleh ± 13,5 kg jamur stadia kancing (button)/45.700 kg jerami kering.
2.6.2. Cara Modern (dalam kumbung)
Panen jamur hendaknya dilakukan pada stadia kancing, sebelum stadia perpanjangan. Jamur harus dipetik 2 kali perhari selama 3 hari. Sering tubuh buah jamur yang terbentuk tidak dalam stadia yang seragam. Oleh karena itu pemetikan jamur harus hati-hati jangan sampai merusak jamur yang masih dalam stadia kepala jamur atau kancing kecil.
a) Periode panen
Masa panen pertama (selama tiga hari) diikuti masa panen kedua setelah periode istirahat selama 5-7 hari. Dalam dua kali periode panen dengan jarak 2 minggu, 25-40% produksi jamur yang diharapkan sudah dapat di panen.
b) Prakiraan produksi
1. Luas lahan 80 m2, jumlah kompos 25 kg/m2, hasil 120 kg, lama penanamn 14 hari
2. Luas lahan 25 m2, jumlah kompos 30 kg/m2, hasil 40kg, lama penanaman 14 hari
3. luas lahan 80m2, jumlah kompos 30 kg/m2, hasil 400 kg, lama penanaman 14 hari
Bila pasterisasi berjalan sempurna, maka per m2 bisa mencapai 2,5 kg per m2 luas tanaman
2.7. Pascapanen
2.7.1. Penyimpanan
Jamur Merang alangkah baiknya, apabila pada pagi hari selesai terpetik, langsung terjual atau terkonsumsi. Namun apabila masih tertunda 1 hari satu malam, bisa direndam dalam bak yang berisi air bersih, semakin lama perendamannya, kualitas jamur segarnya menurun.
a) Pembungkusan
Beberapa cara memperpanjang daya tahan jamur merang adalah sebagai berikut:
1. bungkus dalam cheese cloth (kain batis) kemudian simpan dalam refrigator pada temperatur 15 derajat C.
2. dikemas dalam styrofoam chest dengan meletakan es pada dasar kotak styrofoam
3. dikemas dalam wadah datar yang dialasi daun pisang.
Stadia kancing dari Jamur Merang untuk dapat bertahan dalam keadaan segar selam 4 hari, temperatur paling tidak harus 15 derajat C dengan kelembaban udara yang tinggi, pada temperatur 5 derajat C akan terjadi”chilling injuri” sedang pada temperatur 20 derajat C jamur cepat membusuk.
Temperatur 15 derajat C dengan kelembaban yang tinggi diperoleh dengan cara pengemasan Jamur Merang dalam styrofoam cooler yang diberi es pada dasarnya.
b) Pengalengan
Pada prinsipnya, pengalengan jamur terdiri dari 3 cara yaitu:
1. Perebusan/ pemanasan jamur segar, baik yang utuh atau yang telah dirajang.
2. Memasukan jamur dalam kaleng ditambah obat pengawet, misalnya garam dan asam nitrat atau vitamin C
3. Sterilisasi jamur yang telah dikalengkan dengan suhu 90 derajat C selama 2 jam.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengalengan jamur:
1. Sebelum direbus, jamur harus bersih benar, agar tidak tercemar oleh microorganisme.
2. Untuk jamur yang hampir mekar, sebaiknya dirajang terlebih dahulu, demikian pula dengan jamur yang agak rusak.
3. Sterilisasi yang kedua, yaitu setelah jamur dikalengkan. Bisa diulang kembali direbus, pada alat perebus yang khusus misalnya autoklaf. Pada alat perebus ini, tekanan atmosfer dapat diusahakan mencapai 1,1 atm, sebelum disterilkan kaleng ditutup rapat.
4. Perlu diadakan pemeriksaan setelah 1-2 minggu. Kaleng yang cembung atau bocor berati tidak dapat bertahan lama.
c) Penyimpanan dengan cara pengasapan
Hasil jamur yang dipetik, dicuci dan direbus/dikukus dengan maksud kadar air dalam jamur berkurang dan proses pembusukan terhenti karena terhentinya keaktifan bakteri pembusuk untuk mengurangi kadar air lebih lanjut, setelah di tus (dituntaskan airnya) jamur tersebut diletakan dalam anyaman bambu/rigen/tampah dan dijemur. Bila cuaca sudah memungkinkan (terutama senja-malam, pagi hari) bisa dilakukan pengasapan
Metode pengasapan, bisa dipakai seperti pengasapan tembakau yaitu dengan membuat para–para di atas dapur. Bagi produksi yang cukup besar pengawetan dengan cara pengasapan sebaiknya dicoba dengan menggunakan rigen yang diletakkan pada bambu gelondongan yang bisa digerakan memungkinkan pengasapan berjalan sempurna dan merata. Para-para semuanya bisa terbuat dari bambu. Bahan bakarnya digunakan kayu, jerami ataupun rumput-rumputan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan supaya hasil pengasapan baik, antara lain:
1. Perebusan cukup 15-30 menit dalam air mendidih dan tambahkan bumbu-bumbu penyedap, misal garam, asam citrat.
2. Peralatan yang digunakan jaga kebersihannya.
3. Pengeringan pada sinar matahari harus cepat jangan sampai terlambat, agar warna tidak berubah jadi kehitaman.
4. Pengasapan dilakukan, bila cuaca tidak memungkinkan berlangsungnya proses pengeringan (terutama waktu senja-malam, pagi hari), sehingga jamur akan terhindar dari bakteri pembusuk.
5. Jamur yang sudah mengalami pembusukan (warna menghitam, busuk) harus segera dibuang untuk menghindari penularannya.
6. Hasil jamur setelah pengasapan dimasukan dalam kantong plastik atau stoples yang bersih
2.7.2. Penanganan Lain
a) Pengeringan
1. Sebelum dikeringkan jamur merang stadia kancing dibelah secara memanjang
2. Keringkan di bawah sinar matahari
3. Dilakukan dengan udara panas atau pengeringan dalam oven pada suhu 40 derajat C.
4. Periode waktu yang dibutuhkan 8 jam, jamur merang akan kehilangan 10% dari berat basah
5. Setelah kering bisa dibuat keripik atau rempeyek
b) Pickling (asinan)
Caranya: cuci dan blanching Jamur Merang selama 5 menit dalam air mendidih, segera tempatkan jamur tersebut dalam air dingin untuk mendinginkan. Pindahkan ke dalam stoples atau botol yang bermulut lebar, kemudian tambahkan larutan garam (22%garam), sedikit cuka, vitamin C atau asam citrat pada Jamur Merang untuk membuat warna segar dari jamur. Tutup wadah yang digunakan (tidak terlalu kuat) dan pasteurisasi selama satu jam. Dinginkan, kuatkan tutup botol.
c) Pasta Jamur
Caranya: keringkan jamur kemudian rendam dalam 40-50% larutan garam selama 10-15 menit, angkat Jamur Merang kemudian blender hingga berupa pasta. Letakkan di atas kain batis untuk mentiriskan cairan yang berlebihan. Cairan yang keluar masih dapat dimanfaatkan sebagai saus jamur. Setelah tiris, masukan pasta ke dalam botol bermulut lebar, kukus selama 1 jam, jamur siap dipasarkan.
Tuesday, March 30, 2010
Budidaya Tanaman Cabe
Cabai (Capsicum Annum var longum) merupakan salah satu komoditas hortikultura
yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, Karena buahnya selain dijadikan
sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani,
sebagai bahan baku industri, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja
serta sebagai sumber vitamin C. Luas tanaman dan produksi cabe di Irian Jaya pada
tahun 1998 adalah 4.104 ha dengan produksi 8.565 ton/ ha.
SYARAT TUMBUH
1. Tanah
- Tanah berstruktur remah/ gembur dan kaya akan bahan organik.
- Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 - 7,0
- Tanah tidak becek/ ada genangan air
- Lahan pertanaman terbuka atau tidak ada naungan.
2. Iklim
- Curah hujan 1500-2500 mm pertahun dengan distribusi merata.
- Suhu udara 16° - 32 ° C
- Saat pembungaan sampai dengan saat pemasakan buah, keadaan sinar
matahari cukup (10 - 12 jam).
TEKNIK BUDIDAYA
1. Persemaian
- Kebutuhan benih setiap hektar pertanaman adalah 150 - 300 gram dengan daya
tumbuh lebih dari 90 %.
- Siapkan media semai dari tanah, pasir dan pupuk kandang dengan
perbandingan 1:1 yang dibuat bedengan setinggi ± 20 cm, lebar ± 1 m dan
panjang 3-5 m serta diberi naungan dari jerami atau alang-alang/ daun kelapa.
- Sebar benih secara merata atau ditebar dalam garikan dengan jarak antar
garitan 5 cm dan ditutup tanah tipis-tipis lalu disiram. Pertahankan kelembaban
tanah tetap baik agar biji cepat tumbuh
- Setelah bibit berumur 10 hari, maka dilakukan pengkokeran untuk memudahkan
penanaman dan mencegah kematian pada waktu tanaman dipindahkan. Sebagai
koker dapat digunakan daun pisang , daun kelapa atau kantong plastik. Bibit
yang telah dikoker ditempatkan dibawah naungan persemaian.
- Sekitar lima hari sebelum bibit dipindahkan naungan pada persemaian d ibuka
atau dikurangi supaya bibit terbiasa kena sinar matahari.
2. Pengolahan Tanah
- Satu minggu sebelum tanam lahan sudah siap, meliputi mencangkul/ bajak dan
pembuatan bedengan.
- Ukuran bedengan tinggi ± 30 cm, lebar 1 -1,5 m dan panjang sesuai kebutuhan
petakan dengan j arak antar bedengan + 30 cm.
- Berikan pupuk kandang dengan dosis 20-30 ton/ ha.
- Bila dipergunakan mulsa dari plastik dapat dipasang setelah dilakukan
pemupukan pupuk kandang den bile dipergunakan mulsa dari limbah tanaman
seperti dang-slang den sisa-sisa tanaman dapat diberikan setelah penanaman
bibit.
3. Penanaman
- Bibit dapat dipindahkan pada umur 28-35 hari setelah semai dengan daun 5 - 7
helai.
- Pilih bibit yang tinggi den besarnya seragam. Tanam bibit dengan posisi tegak
dan tekan sedikit tanah disekeliling batang tanaman.
- Siram tanaman secukupnya setelah tanam den penyiraman berikutnya dilakukan
2 hari sekali bila tidak ada hujan.
4. Pemupukan
- Diberikan dengan dosis den aplikasi sebagai berikut:
- Pupuk kandang 20 ton / ha.
- Aplikasi seminggu sebelum tanam.
- Urea 150 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap
aplikasi.
- ZA 400 kg/ ha. Umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap
aplikasi.
- TSP - 36 : 150 kg/ ha, aplikasi seminggu sebelum tanam.
- KCL :100 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap
aplikasi.
- Untuk lebih meningkatkan hasil dapat diberikan pupuk pelengkap cair Tress
dengan dosis 500 1/ ha, pada umur 20 hari setelah tanam. Umur 30 hari setelah
tanam 500 liter /ha. Umur 40 hari setelah tanam 500 liter /ha dan 50 hari setelah
tanam 500 liter /ha.
5. Pemeliharaan
- Lakukan penyulaman bile ads tanaman yang mati pads pagi/ sore hari.
- Pemasangan ajir dapat dilakukan pada saat penanaman atau setelah tanaman
setinggi 30 s/d 50 cm dan langsung diikat, panjang ajir + 1,5 m.
- Siangi pertanaman sebelum dilakukan pemupukan bila terdapat gulma.
6. Pengendalian Hama dan Penyakit
- Hama dan penyakit yang wereng menyerang tanaman cabe adalah hama kutu,
daun persik, ulat, grayak, hama trips, penyakit busuk buah, bercak daun dan
busuk batang.
- Untuk Hama Kutu Daun Persik dapat dipakai Curacron , Tohuthion.
- Hama ulat Grayak digunakan Methrin, Dimilin dan Atabron
- Hama Trips digunakan Nogos, Nuracran, Malathion.
- Penyakit Bercak Daun, Busuk Batang dan Busuk Buah digunakan Antracol,
Dithane, M-45, Cupapit, Dipolatan AF.
7. Panen
- Panenlah cabe, bila cabe warna buahnya lebih dari 60 % (Warna buah masih
belang hitam).
- Pemanenan dapat dilakukan setiap 3-5 hari sekali secara terus menerus sampai
tanaman tidak menghasilkan.
- Sewaktu panen sertakan tangkai buahnya, lakukan secara selektif dan hati - hati
Sunday, March 28, 2010
Budidaya KEDONDONG
1. SEJARAH SINGKAT
Kedondong merupakan tanaman buah berupa pohon yang dalam bahasa inggris
disebut ambarella, otaheite apple, atau great hog plum. Sedang di Asia Tenggara
disebut : kedondong (Indonesia & Malaysia), hevi (Filipina), gway (Myanmar), mokah
(Kamboja), kook kvaan (Laos), makak farang (Thailand), dan co'c (Vietnam).
Kedondong berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tanaman ini telah tersebar
ke seluruh daerah tropik.
2. JENIS TANAMAN
Kedondong merupakan tanaman buah yang berasal dari famili Anacardiaceae.
Jenis-jenis kedondong unggul yang potensial dan banyak ditanam oleh para petani
diantaranya adalah kedondong karimunjawa, kedondong bangkok, dan kedondong
kendeng. Kedondong karimunjawa merupakan kedondong yang buahnya berukuran
raksasa/super. Produksi kedondong ini dapat terjadi sepanjang tahun. Bentuk
buahnya lonjong dengan berat 0,7-1 kg/buah.
3. MANFAAT TANAMAN
Manfaat buah kedondong manis kultivar unggul dimakan dalam keadaan segar,
tetapi sebagian buah matang diolah menjadi selai, jeli, dan sari buah. Buah yang
direbus dan dikeringkan dapat disimpan untuk beberapa bulan. Buah mentahnya
banyak digunakan dalam rujak dan sayur, serta untuk dibuat acar (sambal
kedondong). Daun mudanya yang dikukus dijadikan lalapan. Buah dan daunnya juga
dijadikan pakan ternak. Kayunya berwarna coklat muda dan mudah mengambang,
tidak dapat digunakan kayu pertukangan, tetapi kadang-kadang dibuat perahu.
Dikenal di berbagai pelosok dunia berbagai manfaat obat dari buah, daun, dan kulit
batangnya, dan dari beberapa negara dilaporkan adanya pengobatan borok, kulit
perih, dan luka bakar. Tiap 100 gram bagian buah yang dapat dimakan mengandung
60-85 gram air, 0,5-0,8 gram protein, 0,3-1,8 gram lemak, 8-10,5 gram sukrosa, 0,85-
3,60 gram serat. Daging buahnya merupakan sumber vitamin C dan besi; buah yang
belum matang mengandung pektin sekitar 10%.
4. SENTRA PENANAMAN
Tanaman kedondong banyak ditanam di negara-negara Asia Tenggara. Salah satu
negara yang menjadi sentra penanaman kedondong ialah Filipina yang memiliki satu
jenis kedondong unggul yaitu jenis Spondias purpurea L. Di Indonesia daerah
penghasil kedondong salah satu diantaranya adalah Karimunjawa (Jepara, Jawa
Tengah).
5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1) Pohon kedondong cabang-cabangnya rapuh dan mudah patah sehingga keadaan
angin yang terlalu kencang dapat merusak pohon ini.
2) Curah hujan yang diinginkan antara 1.000-1.500 mm/tahun. Pada saat musim
kemarau daun kedondong rontok seluruhnya dan pada musim penghujan akan
tumbuh kembali dengan cepat.
3) Pohon kedondong memerlukan banyak cahaya; pohon yang ternaungi
menghasilkan buah sedikit/tidak dapat berbuah sama sekali.
4) Suhu yang hangat sekitar 30 derajat C sangat cocok untuk tanaman kedondong.
5) Kelembaban udara sekitar 14%.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Benih yang akan ditanam harus memenuhi syarat-syarat pertumbuhan, yaitu:
a) Benih berasal dari tanaman induk yang sehat.
b) Benih yang dibeli di toko atau distributor harus yang memiliki persen kecambah
sekitar 80% dan persen kemurniannya juga perlu diperhatikan.
c) Benih yang berasal dari pembiakan vegetatif harus dari bagian tanaman yang
sehat dan dewasa.
d) Benih dapat disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam agar benih dapat
tahan terhadap keadaan lingkungan.
2) Penyiapan Benih
Pengadaan benih kedondong dapat dilakukan secara generatif atau dengan
vegetatif. Secara generatif adalah dengan menggunakan biji. Biji dapat terjadi dari
penyerbukan sendiri maupun dari penyerbukan silang. Oleh karena itu benih yang
berasal dari biji, setelah tumbuh dewasa sifat-sifat dari induknya akan berbeda.
Sehingga kebanyakan orang menggunakan pembiakan vegetatif untuk
memperbanyak tanaman kedondong. Pembiakan vegetatif dapat dilakukan
dengan cara cangkok, stek batang/dengan okulasi sambungan. Benih biasanya
tidak disimpan akan tetapi langsung ditanam di lapangan setelah dilakukan
pembiakan baik pembiakan secara vegetatif maupun generatif.
3) Teknik Penyemaian Benih
Benih dapat disemai terlebih dahulu pada tempat pesemaian khusus. Tempat
pesemaian ini biasanya dibuat dengan naungan dan pinggirnya ditutup dengan
jaring kawat untuk melindungi benih dari gangguan hewan. Penyemaian dilakukan
dengan menggunakan tanah humus atau tanah dicampur dengan kotoran hewan,
setelah tumbuh 4-5 daun dapat dipindahkan ke dalam polybag. Pemindahannya
dilakukan dengan hati-hati karena akar tanaman dapat rusak. Benih disemai pada
waktu 2-3 minggu sebelum tanam.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Semai sebaiknya disiram setiap pagi dan sore hari. Penyiraman menggunakan
gembor yang lubang-lubangnya kecil sehingga kucuran air tidak merusak tanah
pesemaian. Apabila biji yang tumbuh terlalu banyak dan rapat maka perlu
dijarangi. Apabila ada gejala-gejala benih yang terkena serangan hama maka
penyemprotan pestisida dapat dilakukan dengan dosis yang rendah.
5) Pemindahan Bibit
Setelah bibit sudah mencapai pertumbuhan yang baik dengan pertumbuhan daun
antara 10-15 helai maka bibit siap ditanam dilapangan. Waktu pemindahan bibit
dilakukan pada pagi hari/sore hari ketika udara masih sejuk. Setelah bibit
dipindahkan dapat dilakukan penyiraman.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Ulat perusak daun (Cricula trifenestrata Helf.)
Ciri: ulat yang berwarna hitam dengan bintik putih dan bulunya berwarna
berwarna putih, kepala dan perut berwarna merah-cerah. Panjang ulat sekitar 60
mm, dan pupanya berada di dalam kokon berwarna emas dan sering dijumpai
bergerombol pada daun. Kupu betina berwarna coklat dengan rentangan sayap
sekitar 75 mm. Telur berwarna putih keabu-abuan yang diletakkan secara
berderet pada tepi daun atau cabang. Pengendalian: secara alami populasinya
dan penyemprotan insektisida.
2) Kumbang (Podontia affinis Grond.)
Ciri: kumbang berukuran besar, dengan kaki berwarna kuning. Sayapnya dengan
8 bintik gelap, panjang 10-12 mm. Pupa berada dalam tanah. Dewasanya bila
terganggu akan menjatuhkan diri ke tanah. Telur berukuran 1,6 mm yang
diletakkan pada permukaan bawah daun dan tertutup oleh substansi gelap. Betina
hidupnya sekitar 3 bulan dan menghasilkan telur sekitar 500 butir.
Perkembangannya 38-42 hari. Musuh alaminya berupa parasit telur Ooencyrtus
podontiae. Pengendalian: populasinya secara alami dan penyemprotan
insektisida.
7.2. Penyakit
Penyakit pada pohon kedondong sama seperti pada tanaman buah-buahan lainnya.
Jenis penyakit yang sering muncul ialah penyakit kulit (Phytopthora), Fusarium,
Diplodia, Gloeosporium, Phoma, dll yang disebabkan oleh cendawan, bakteri atau
virus. Penyakit biasanya menyerang bagian daun, buah, dan batang. Pengendalian:
menggunakan fungisida zat-zat aditif lainnya seperti bubur bordo dan bubur
belerang.
7.3. Gulma
Alang-alang, rumput-rumputan benalu dan lainnya yang tumbuh pada tanaman
sering mengganggu pertumbuhan. Pemberantasan dilakukan dengan manual yaitu
penyiangan dan dapat pula menggunakan herbisida. So far www.vitroculture.blogspot.com
Tuesday, March 23, 2010
Budidaya tanaman BROCCOLI
Kata Broccoli sendiri berasal dari bahasa Italia broco yang berarti "tunas". Bentuk tanaman ini secara selintas mirip kubis bunga. Hanya saja kepala bunganya tersusun dari kuntum-kuntum bunga dan tangkainya berdaging tebal. Tergantung varietasn,ya, warna kepala bunga ada empat macam, yaitu hijau, ungu, putih, dan hijau muda. Pada ketiak daun timbul juga kepala bunga yang lebih kecil dan akan keluar bila kepala bunga utama telah dipangkas atau dipanen. Kepala bunga utama dan samping serta tangkai berdaging tebal merupakan bagian-bagian yang biasa digunakan atau dimakan. Sayuran ini banyak mengandung vitamin A, vitamin C, dan beberapa mineral seperti thiamin, niasin, kalsium, dan zat besi dalam jumlah yang cukup memadai.
Manfaat
sayuran
Syarat Tumbuh
Lahan yang cocok untuk kehidupan broccoli adalah daerah yang terletak pada ketinggian sekitar 1.000-2.000 m dpl. Sedangkan tekstur tanah yang dikehendaki adalah tanah liat berpasir dan banyak mengandung bahan organik. Curah hujan harus berkisar antara 1.000-1.500 cm per tahun dan harus merata sepanjang tahun. Pada umumnya broccoli menyukai iklim yang dingin atau sejuk. Namun, ada beberapa varietas yang tahan pada iklim panas meskipun kuntum bunganya membuka lebih awal dibandingkan varietas yang ditanam di daerah beriklim sejuk. Oleh karena itu, kepala bunga varietas iklim panas cepat menjadi tidak kompak atau terpisah-pisah.
Pedoman Budidaya
Benih broccoli harus disemaikan dulu sebelum ditanam di lahan yang tetap. Lahan persemaian dibentuk bedengan dengan lebar sekitar 1 m dan panjang 3 m. Selanjutnya bedengan diberi campuran pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:2. Di dalam bedengan itu dibuatkan baris-baris alur dengan jarak antaralur 5 cm dan kedalamannya sekitar 1,5-2 cm. Benih yang akan disemai direndam dulu dalam air yang bersuhu 50°C selama 15 menit, kemudian diangin-anginkan. Sebelum ditanam, benih diberi fungisida Orthocide. Dua hari setelah disemai, tanaman akan mulai tampak di atas permukaan tanah. Setelah berumur sekitar 5 sampai 10 hari, bibit dapat dipindahkan ke dalam bumbungan berupa daun kelapa. Media dalam bumbungan terdiri dari campuran pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1:1. Sebelum dibumbung harus dilakukan pemilihan bibit yang baik dan sehat. Selain itu, harus dilakukan pula pencegahan penyakit dengan cara bibit yang terpilih dicelupkan ke dalam larutan Agrimycin 1,2 g/1 air serta dipupuk dengan pupuk majemuk NPK 1 atau 2 hari sebelum dibumbung. Sehari setelah dibumbung, bibit disiram dengan pupuk NPK cair 40 g/I air selama seminggu. Selain itu, diberikan pula pupuk daun sebanyak 1 g/1 air, CaCl2, MgS04, dan KN03 dengan konsentrasi 0,5 g/l air dengan selang waktu seminggu sekali. Untuk melindungi tanaman, diberikan pula Dithane 1,5 g/l air dan Basudin 1 cc/l air seminggu sekali. Bibit berada di bumbungan sekitar tiga minggu, kemudian baru bisa dipindahkan ke lahan penanaman tetap. Penanaman Bibit broccoli ditanam dengan jarak tanam 70 x 50 cm pada lubang tanam berdiameter 25 cm dan sedalam kurang lebih 10 cm. Sebelum penanaman, tanah harus diolah dulu. Dan, untuk mencukupi kebutuhan bahan organik, sebaiknya pengolahan tanah dibarengi dengan pemberian pupuk kandang/kompos sebanyak kurang lebih 10 ton/ha. Selanjutnya dibuat bedengan-bedengan dengan lebar sekitar satu meter dan tinggi sekitar 30-50 cm.
Pemeliharaan
Penyiraman sebaiknya dilakukan dua kali sehari pagi dan sore dan sore hari, terutama saat tanaman mulai tumbuh. Setelah tanaman tumbuh dan berdaun, penyiraman dapat dilakukan sekali sehari. Namun, apabila tanah kelihatan sangat kering dan keras, penyiraman dapat dilakukan lebih sering. Sebaliknya bila curah hujan sudah mencukupi, kita tidak perlu lagi melakukan penyiraman. Pemupukan pada broccoli dilakukan tiga kali. Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman mulai tumbuh atau sekitar umur 5 hari setelah tanam, yaitu dengan pemberian pupuk Urea dan atau NPK sebanyak 1 g setiap tanaman. Pupuk diberikan mengelilingi tanaman dengan jarak 3 cm dari tanaman. Pemupukan kedua dilakukan 10 hari setelah tanam, yaitu dengan penambahan pupuk Urea dan atau NPK sebanyak 3 - 5 g. Pupuk diberikan mengelilingi tanaman dengan jarak 5 cm dari tanaman. Pemupukan ketiga dilakukan saat tanaman berumur 3-4 minggu. Pemberiannya mengelilingi tanaman dengan jarak 7-8 cm. Setiap selesai memupuk, sebaiknya tanah di sekitar tanaman segera disiram.
Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang menyerang broccoli sama seperti hama dan penyakit yang menyerang keluarga (famili) kubis lainnya. Sehingga pengendalian dan pencegahannya pun sama.
Panen dan Pasca Panen
Broccoli dapat dipanen saat kuntum bunga belum membuka dan kepala bunga masih kompak atau sekitar 47-65 hari setelah tanam, tergantung varietas yang digunakan. Apabila panen terlambat, maka warna kuntum bunga akan menjadi kuning dan kepala bunga menjadi longgar sehingga mutu dan harganya akan merosot. Panen sebaiknya dilakukan pagi hari setelah embun menguap atau sore hari sebelum embun jatuh dengan cara dipotong pada tangkai kepala bunga. Untuk tanaman yang diberi lindungan atau naungan plastik, panen dapat dilakukan tanpa perlu memperhatikan jatuhnya embun.
Monday, March 22, 2010
Budidaya tanaman BAWANG PUTIH
Varietas bawang putih yang cocok dikembangkan di dataran rendah adalah sebagai berikut. a. Lumbu putih Daerah yang pertama mengembangkannya adalah Yogyakarta. Umbinya berwama putih. umbi memiliki berat sekitar 7 g dengan diameter 3-3,5 cm, jumlah siung per umbi 15-20 buah. Daun berukuran sempit, lebamya kurang dari 1 cm. Posisi daun tegak. Produksi rata-ratanya 4-7 ton/ha. b. Jati barang Banyak dikembangkan di daerah Brebes, Jawa Tengah. Umbinya tak putih benar melainkan kekuningan tetapi kulit luamya tetap putih. Penampilan umbi agak kecil, diameter sekitar 3,5 cm. Sebuah umbi memiliki berat sekitar 10-13 g. Ada 15-20 siung yang tersusun secara tak teratur pada umbi. Rata-rata produksinya antara 3-3,5 ton/ha. c. Bagor Varietas ini berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Kulit umbinya yang putih buram berdiameter 3-3,5 cm. Umbinya berwama kuning. Bentuk umbi tak terlalu bulat melainkan agak lonjong. Berat sebuah umbi hanya 8-10 g dengan jumlah siung 14-21 per umbi. Dari satu hektar lahan dapat dihasilkan 5-7 ton bawang putih. d. Sanur Bawang putih varietas sanur banyak dikembangkan di Pulau Dewata, Bali. Umbinya berukuran besar, berdiameter 3,5-4 cm. Sebuah umbi memiliki berat 10-13 g. Selubung kulit berwarna putih, umbinya sendiri berwarna kuning. Susunan siung pada umbi tidak teratur dengan jumlah siung per umbi 15-20 buah. Hasil umbi yang dapat dipanen sekitar 4-6 ton/ha. Varietas bawang putih yang terkenal seperti lumbu hijau dan lumbu kuning kurang mampu beradaptasi dengan dataran rendah. Lumbu hijau cocok untuk dataran tinggi, sedangkan lumbu kuning masih toleran dengan dataran medium.
Manfaat
Sebagai bumbu dan obat.
Syarat Tumbuh
Kendala budi daya bawang putih dataran rendah ialah bila tak terpenuhinya cuaca yang sejuk dan kering saat pembentukan umbi. Untuk mengakalinya, bawang putih ditanam pada bulan Mei, Juni, atau Juli. Menanam pada musim hujan tak dianjurkan karena tanah jadi terlalu basah dan temperatumya tak baik untuk pertumbuhan umbi. Tanah yang disukai bawang putih pH-nya 6,5-7,5. Oleh karena itu, untuk tanah yang asam harus diberi kapur dahulu hingga mendekati netral.
Pedoman Budidaya
Bibit: Bibit bawang putih yang baik penting untuk mendapatkan pertumbuhan lapang dan hasil yang tinggi. Sebaiknya bibit bawang putih memenuhi kriteria-kritcria berikut. a.Bagian pangkal batang padat (berisi penuh dan keras). b.Siung berpenampilan licin dan tegar, tidak kisut. c.Tunas terlihat segar bila siung dipatahkan. d.Berat siung sekitar 1,5-3 g, bentuk normal. e.Bebas hama-penyakit. Bila bibit yang digunakan beratnya 3 g/siung maka kebutuhan per hektarnya adalah 1.600 kg. Sedang untuk ukuran siung yang kecil (sekitar 1 g) menghabiskan 670 kg/ha. Meskipun yang ditanam sebagai bibit adalah siung, tetapi kalau membeli bibit sebaiknya dalam bentuk umbi. Hal itu disebabkan bawang putih dalam bentuk umbi lebih tahan lama daripada bentuk siung. Umbi boleh dipecah menjadi siung paling tidak 1-2 hari sebelum tanam. Penanaman: Sawah yang sudah ditanami padi adalah lahan yang cocok untuk bawang putih dataran rendah. Petani memang sering menyeling penanaman sawahnya. Bila sawah ingin ditanami palawija juga maka pola tanam yang dianjurkan adalah sebagai berikut :padi-bawang putih-jagung-padi-bawang putih. Sebelum penanaman, lahan diolah terlebih dahulu. Tanah yang asam dinetralkan sebulan sebelum tanam. Bila pH kurang dari 6, dosis kapumya sekitar 1-2 ton/ha. Seandainya bekas panen pada sawah masih ada maka perlu dibersihkan. Lantas buat bedengan-bedengan yang lebarnya 80-120 cm dan tingginya 40 cm. Panjang bedengan bisa disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antar bedengan antara 10-20 cm. Nantinya ini akan berguna sebagai saluran air dan tempat lalu lalang saat melakukan pemeliharaan atau panen. Apabila lahan yang hendak ditanami bukan bekas sawah, tanah harus dibajak atau dicangkul hingga benar-benar gembur. Bila tak gembur, bisa berakibat fatal pada produksi. Seperti diketahui bawang putih adalah tanaman yang dipanen umbinya. Prinsip budi daya yang diterapkan adalah mengupayakan semaksimal mungkin pertumbuhan umbi tersebut. Tanpa tanah yang gembur umbi akan sulit berkembang. Setelah tanah gembur, dilanjutkan dengan pembuatan bedengan dan saluran air serta pengapuran bila tanah bereaksi asam. Jarak tanarn benih disesuaikan dengan ukuran siung benih yang dipakai. Siung besar membutuhkan jarak tanam renggang sekitar 15 x 10 cm. Untuk pembibitan digunakan jarak tanam 10 x 10 cm. Posisi siung saat ditanam tegak. Kedalamannya 5-7 cm dari permukaan tanah.
Pemeliharaan
Pemeliharaan: Mulsa perlu diberikan setelah bibit ditanam. Mulsa yang murah adalah alang-alang atau jerami padi. Tutupi bedengan secara merata setebal 3 cm. Gulma secara tak langsung sudah terhalang pertumbuhannya dengan adanya mulsa. Akan tetapi, gulma yang tumbuh di saluran air atau di sela-sela mulsa tetap perlu dicabut. Apabila arcal pertanaman bawang putih cukup luas maka gulma dapat diberantas dengan herbisida TOK 50 WP. Saluran air yang dibuat perlu dialiri agar tanaman tumbuh baik. Bila musim hujan penyiraman hanya dilakukan saat lahan tampak kekurangan air. Saat musim kemarau pcrlu pengairan sendiri yang intensif. Caranya dapat dengan melakukan penyiraman ke bedengan pertanaman ataupun dengan penggenangan saluran-saluran air. Pemupukan: Lahan seluas satu hektar membutuhkan pupuk kandang sebanyak 10-20 ton. Pemberiannya cukup dengan cara mencampurkan secara merata pada bedengan. Pemberian pupuk kandang umumnya pada saat pengolahan tanah atau sebelum tanam. Tambahan pupuk kimia seperti Urea, TSP, dan ZK juga perlu. Dosisnya adalah Urea 200 kg, TSP 130 kg, dan ZK 200 kg per hektar. Pemberian dilakukan secara bertahap, yakni saat tanaman berumur 15, 30, dan 40 hari.
Hama dan Penyakit
Jenis hama yang sering mengganggu tanaman bawang putih antara lain Thrips tabaci atau hama bodas. Gejala serangan terlihat pada daun berupa bercak mengilap dan luka bekas gigitan yang berbentuk bintik-bintik berwama putih. Perkembangan dan penyebaran hama ini cepat sekali. Cara mengatasinya dengan insektisida fosfororganik, seperti Bayrusil 250 EC yang mengandung bahan aktif kuinalfos, Mesurol 50 WP yang mengandung bahan aktif merkaptodimetur, ataupun Azodrin 15 WSC dan Nuvacron 20 SCW yang mengandung bahan aktif monokotofos. Konsentrasi insektisida yang dipakai 2 ml/l air. Semprotkan setiap 7 hari sekali saat tanaman baru tumbuh hingga berumur 10 minggu sebagai pencegahan. Tanaman bawang putih yang diserang tungau menunjukkan gejala sebagai berikut. Dari kejauhan daun terlihat berwarna abu-abu karena cairan daunnya dihisap tungau. Bila musim kemarau lebih banyak lagi tungau yang menyerang. Karena tak begitu berbahaya, hama ini kurang ditakuti. Untuk pengendaliannya, digunakan akarisida, seperti Meotrin 50 EC yang mengandung bahan aktif fenpropatrin atau Roxion 40 EC yang mengandung bahan aktif dimetoat. Konsentrasinya 2 ml/l air. Penyemprotan dimulai sejak tanaman berumur 9 minggu hingga 2 minggu sebelum panen dengan selang waktu seminggu sekali. Penyakit mati ujung daun disebabkan oleh cendawan Phytophtora porri. Mula-mula ujung daun berbercak kuning. Setelah itu cendawan turun ke bawah dan ujung daun mengering berwama pulih. Akhimya daun mati seperti dipilin. Bila cuaca lembap, kerusakan akan lebih parah. Tindakan penanggulangannya adalah dengan memberikan fungisida Benlate dengan konsentrasi 0,5 g/l air. Bisa juga dengan menyemprotkan Dithane M-45 dengan konsentrasi 1-2 g/l. Sejak tanam hingga umur 60 hari fungisida disemprotkan dengan interval 7 hari. Penyakit downy mildew atau embun tepung disebabkan oleh mikroorganisme Perenospora destructor. Gejala serangannya dimulai dengan munculnya bintik abu-abu atau hijau pucat. Warna bintik berubah menjadi ungu kemudian kuning. Daun mengering, menjalar hingga ke pangkal. Akhirnya daun seperti tertutup tepung hitam yang merupakan cendawan itu sendiri. Untuk penanggulangannya semprotkan Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 g/l. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali. Saat cuaca berkabut atau hujan jarak semprot bisa dirapatkan menjadi 2 kali seminggu. Waktu semprot mulai dari tanaman berumur 15 hari hingga 2 minggu sebelum panen.
Panen dan Pasca Panen
Bila ditanam sekitar Mei-Juli maka bulan Agustus-Oktober sudah dapat dipanen. Panen dilakukan saat tanaman berumur 90--120 hari dari saat tanam. Ciri-ciri bawang putih siap panen terlihat pada daunnya yang menguning atau kering serta tangkai batang yang mengeras. Bila ciri-ciri ini terlihat sudah 50 % dari total tanaman maka panen dapat dilakukan. Panen dilakukan dengan cara mencabut semua bagian tanaman. Di sentral produksi bawang putih panen biasa dilakukan Dengan serombongan tenaga kerja yang terkoordinir. Maksudnya agar panen tak memakan waktu terlalu lama dan hasil per petak atau per hektarnya segera diketahui. Kebanyakan petani mengumpulkan bawang putih dalam bentuk ikatan-ikatan. Satu ikat biasanya terdiri dari 30 tangkai. Akar dan daun dibuang dengan menyisakan pangkal daunnya. Selanjutnya tindakan pasca panen dilakukan agar pangkal daun menjadi kering. Untuk ini dilakukan penjemuran selama 15 hari. Sinar matahari terik tidak boleh langsung mengenai umbi bawang putih. Oleh karena itu, lebih baik dijemur di teritisan rumah atau Tempat terlindung. Pada malam hari umbi diletakkan di tempat terlindung. Setelah kering umbi diletakkan di para-para bambu atau gudang yang baik. Sebaiknya gudang difumigasi dahulu agar bebas hama. Pestisida Photoxin 55 % bisa disemprotkan sebagai Fumigan.