Tuesday, April 6, 2010

Home » » BUDIDAYA BAWANG PUTIH

BUDIDAYA BAWANG PUTIH

Tuesday, April 6, 2010

Nama Latin: Allium sativum L.
Nama Inggris: Garlic
Famili : LILIACEAE
1. Cultivar
�� Tawangmangu Baru, TW.
2. Pembibitan
�� Keberhasilan usaha tani bawang putih sangat ditunjang oleh faktor bibit karena produksinya tergantung dari mutu bibit yang digunakan. Umbi yang digunakan sebagai bibit harus bermutu tinggi, berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal, sehat, serta bebas dari hama dan patogen.


BUDIDAYA BAWANG PUTIH
Persyaratan Benih
�� Mutu bibit/benih bawang putih yang baik harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Bebas hama dan penyakit
b) Pangkal batang berisi penuh dan keras
c) Siung bernas
d) Besar siung untuk bibit 1,5 sampai 3 gram.
Penyiapan Benih
�� Benih bawang putih berasal dari pembiakan
generatif dengan umbinya. Kultur jaringan juga
merupakan metode untuk mengisolasi bagian
tanaman seperti jaringan serta menumbuhkannya
dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian
tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi
tanaman lengkap. Dengan kultur jaringan dapat
diperoleh perbanyakan mikro/produksi tanaman
baru dalam jumlah besar dalam waktu relatif
singkat. Umbi bawang putih dapat diperoleh di kios
penjual bibit atau produsen bibit. Selain itu, umbi
bibit juga dapat diperoleh dari hasil panen
sebelumnya yang telah dipersiapkan untuk umbi
bibit.
�� Penyimpanan bibit pada umumnya dilakukan oleh
petani di para-para dan digantung dengan cara
pengasapan. Cara ini praktis tetapi seringkali
merusak umbi bibit dan memiliki penampilan yang
kurang menarik dan memberikan warna yang
kecoklat-coklatan. Cara penyimpanan umbi bibit
lain terdiri dari penyimpanan alami, penyimpanan di
ruangan berventilasi dan penyimpanan pada suhu
dingin.
3. Pengolahan Lahan
Persiapan
�� Penanaman bawang putih biasanya dilakukan di
daerah persawahan yaitu setelah panen padi.
Pengolahan lahan bertujuan menyiapkan kondisi
tanah sesuai dengan yang diinginkannya. Secara
garis besar pengolahan tanah meliputi kegiatan
penggemburan (dicangkul/dibajak), pembuatan
bedengan dengan saluran air, pengapuran (untuk
tanah asam) dan pemberian pupuk dasar. Tanah
yang asam dinetralkan sebulan sebelum tanam. Bila
pH kurang dari 6, dosis kapurnya sekitar 1-2 ton/ha.
�� Jumlah bibit yang diperlukan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain:
a) pola tanam
b) jarak tanam
c) permukaan lahan
d) ukuran umbi bibit
�� Kebututuhan umbi bibit untuk bawang putih
apabila jarak tanam 20 x 20 cm jumlah kebutuhan
bibit antara 200.000-250.000 siung/200 kg siung, jarak
tanam 20 x 15 cm jumlah kebutuhan bibit antara
240.000-300.000 siung/sekitar 240 kg siung, dan untuk
jarak tanam 20 x 10 cm jumlah kebutuhan bibitnya
adalah antara 400.000-500.000 siung/sekitar 400 kg
siung. Jumlah bibit akan menentukan volume
produksi.
Pembukaan Lahan
�� Lahan yang akan ditanami apabila bekas panen
pada sawah masih ada maka perlu dibersihkan.
Apabila lahan yang hendak ditanami bukan bekas
sawah, tanah harus dibajak/dicangkul hingga
benar-benar gembur. Setelah itu lahan dibiarkan
selama kurang lebih 1 minggu sampai bongkahan
tanah tersebut menjadi kering, selanjutnya
bongkahan tanah tersebut dihancurkan dan
diratakan lalu dibiarkan lagi, beberapa hari
kemudian dilakukan lagi pembajakan untuk yang
kedua kalinya. Dengan cara seperti ini bongkahan
tanah akan hancur lebih halus lagi.
Pembentukan Bedengan
�� Pembuatan bedengan mula-mula dilakukan
dengan menggali tanah untuk saluran selebar dan
sedalam ± 40 cm. Tanah galian tersebut diletakkan
di samping kiri dan kanan saluran, selanjutnya
dibuat menjadi bedengan-bedengan. Lebar
bedengan biasanya 80 cm dengan panjang 300
cm dan tinggi 40 cm. Tinggi bedengan dibuat
berdasarkan keadaan tanah lokasi. Kalau tanahnya
agak berat, bedengan perlu sedikit ditinggikan.
Apabila tanahnya berpasir, bedengan tidak perlu
terlalu tinggi.
Pengapuran
�� Keasaman tanah yang ideal untuk budidaya
bawang putih berkisar antara pH 6-6,8. Jika
keasaman tanah masih normal, pH nya berkisar 5,5-
7,5, belum merupakan masalah. Yang menjadi
masalah adalah apabila keasaman tinggi, pH nya
rendah. Untuk menurunkan tingkat keasaman
tanah, menaikkan pH, perlu dilakukan pengapuran.
�� Waktu pemberian kapur yang baik adalah pada
saat akhir musim kemarau menjelang musim hujan.
Pemberian kapur ke dalam tanah dilakukan 2-4
minggu sebelum tanaman ditanam. Selain itu, faktor
cuaca juga perlu diperhatikan pada saat
pemberian kapur.
�� Lahan yang akan dikapur harus dibersihkan dari
rumput pengganggu (gulma). Setelah bersih, tanah
dicangkul secara keseluruhan. Apabila lahan cukup
luas, sebaiknya dibagi menjadi beberapa petak
untuk mempermudah pemberian kapur dan agar
kapur yang diberikan merata ke seluruh lahan.
Pemberian kapur dilakukan dengan cara ditabur,
seperti memupuk padi. Setelah ditaburi kapur
secara merata, tanah dicangkul lagi agar kapur
bercampur dengan tanah dan cepat bereaksi.
Selanjutnya, tanah dibiarkan selama 2-3 minggu,
lalu diolah lagi untuk ditanami. Pengapuran
dilakukan secara bertahap agar kondisi lahan tidak
rusak. Adapun kebutuhan Dolomit untuk
menetralkan tanah adalah sebagai berikut:
a) pH tanah 4,0 = 10,24 ton/ha.
b) pH tanah 4,5 = 7,87 ton/ha.
c) pH tanah 5,0 = 5,49 ton/ha.
d) pH tanah 5,5 = 3,12 ton/ha.
e) pH tanah 6,0 = 0,75 ton/ha. By www.vitroculture.blogspot.com
Pemasangan Pupuk Dasar (Preplant)
�� Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk
kandang, Urea, TSP dan ZK. Pupuk kandang di
berikan sebanyak 20 ton /ha. Pemberian pupuk
dasar tidak perlu terlalu dalam, cukup disebarkan di
atas bedengan kemudian dicampur dengan tanah
atau dibenamkan ke dalam larikan yang dibuat
disamping barisan tanaman.
Pemberian Jerami Sebagai Mulsa
�� Untuk mempertahankan kondisi tanah setelah
penanaman, bedengan ditutup dengan jerami
secara merata. Penutupan dengan jerami jangan
terlalu tebal karena dapat mempersulit bibit yang
baru tumbuh untuk menembusnya. Selain untuk
mempertahankan kondisi tanah, mempertahankan
suhu dan kelembaban permukaan, penutupan
dengan jerami juga dimaksudkan untuk
memperbaiki struktur tanah, apabila jerami telah
membusuk.
4. Teknik Penanaman
Penentuan Pola Tanam
�� Penanaman bawang putih dapat dilakukan satu
atau dua kali setahun dengan mengadakan
penyesuaian varietas. Pola tanam bawang putih
dalam setahun dapat dirotasikan sebagai berikut:
a) Bawang putih - sayuran - bawang putih
b) Bawang putih - sayuran tumpang sari palawija -
bawang putih
c) Bawang putih - tumpang sari palawija atau
sayuran.
�� Penggunaan jarak tanam yang sesuai dapat
meningkatkan hasil umbi per hektar. Jarak tanam
yang terlalu rapat akan menghasilkan umbi yang
relatif kecil walaupun hasil per satuan luas
meningkat. Jarak tanam yang digunakan dapat
bervariasi menurut kebutuhan yang paling
menguntungkan, tetapi yang biasa digunakan
adalah (15 x 10) cm.
Pembuatan Lubang Tanam
�� Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan
tugal atau alat lain. Kedalaman lubang untuk
penanaman bawang putih adalah 3-4 cm (setinggi
ukuran siung bibit). Setelah lubang tanam terbentuk,
umbi bibit siap ditanam.
Cara Penanaman
�� Sehari sebelum ditanam, bibit bawang putih yang
masih berupa umbi dipipil/dipecah satu per satu
sehingga menjadi beberapa siung. Agar lebih
mudah memecahkan umbi dan menghindari
terkelupasnya kulit siung, sebaiknya umbi dijemur
selama beberapa jam. Bibit siung tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang tanam di
atas bedengan. Lubang tanam jangan dibuat
terlalu dalam supaya bibit tidak terbenam
seluruhnya.
�� Jika bibit terlalu dalam ditanam atau terbenam
seluruhnya ke dalam tanah, tunas barunya akan
sukar tumbuh dan dapat terjadi pembusukan bibit.
Sebaliknya, lubang tanam juga jangan dibuat
terlalu dangkal karena nantinya tanaman akan
mudah rebah. Setiap lubang ditanam satu bibit dan
diusahakan agar 2/3 bagian yang terbenam ke
dalam tanah dengan posisi tegak lurus. Posisi siung
jangan sampai terbalik, sebab walau masih dapat
rumbuh, tetapi pertumbuhannya tidak sempurna.
5. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
�� Bawang yang ditanam kadang-kadang tidak
tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau
faktor bibit. Oleh karena itu, tidak mengherankan
jika dalam suatu lahan ada tanaman yang tidak
tumbuh sama sekali, ada yang tumbuh lalu mati,
dan ada yang pertumbuhannya tidak sempurna.
Jika keadaan ini dibiarkan, maka produksi yang
dikehendaki tidak tercapai. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan pertumbuhan yang seragam,
seminggu setelah tanam dilakukan penyulaman
terhadap bibit yang tidak tumbuh atau
pertumbuhannya tampak tidak sempurna. Biasanya
untuk penyualaman dipersiapkan bibit yang
ditanam di sekitar tanaman pokok atau disiapkan di
tempat khusus. Persiapan bibit cadangan ini
dilakukan bersamaan dengan penanaman
tanaman pokok.
Penyiangan
�� Pada penanaman bawang putih, penyiangan dan
penggemburan dapat dilakukan dua kali atau
lebih. Hal ini sangat tergantung pada kondisi
lingkungan selama satu musim tanam. Penyiangan
dan penggemburan yang pertama dilakukan pada
saat tanaman berumur 3-2 minggu setelah tanam.
Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada
umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma
masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat
umbi mulai terbentuk, penyiangan dan
penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati
agar tidak merusak akar dan umbi baru.
Pembubunan
�� Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan
pembubunan. Pembubunan terutama dilakukan
pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika
diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah
dari selokan/ parit di sekeliling bedengan, agar
bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi
lebih dalam sehingga drainase menjadi normal
kembali. Pembubunan juga berfungsi memperbaiki
struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan
tanah tertutup kembali sehingga tanaman berdiri
kuat dan ukuran umbi yang dihasilkan dapat lebih
besar-besar.

Budidaya Tanaman Lainnya:



 
Copyright 2011. vitroculture.blogspot.com . All rights reserved